Narkoba Ancam Generasi, Kapolresta Banyuwangi Ultimatum Pengedar: Akan Saya Miskinkan

by -33 Views
Wartawan: Teguh Prayitno
Editor: Herry W. Sulaksono
aston banyuwangi

“Kalau kemudian ini dianggap sebagai sebuah pekerjaan dan mata pencaharian, ini sudah menurut saya gila,” katanya.

Dari Operasi Tumpas Semeru 2026, polisi menyita sabu sebanyak 1,343 kilogram, ekstasi 26,04 gram dan 8.316 butir obat-obatan berbahaya. Barang bukti lain yang diamankan yakni 44 handphone berbagai merek, uang tunai sekitar Rp14,6 juta, 11 sepeda motor, satu sepeda listrik dan 18 timbangan digital.



Rofiq menyebut hasil pengungkapan dalam waktu 12 hari tersebut menjadi gambaran bahwa peredaran narkotika dan obat-obatan berbahaya masih menjadi persoalan serius di Banyuwangi.

“Ini bukan hanya sekadar prestasi dalam pengungkapan, tapi adalah sebuah fakta menyedihkan yang harus sama-sama kita sadari bahwa ini adalah kejahatan yang masif terjadi di masyarakat,” ujarnya.

Selain Operasi Tumpas Semeru, Polresta Banyuwangi juga mengungkap kasus narkotika di luar kegiatan operasi selama tiga bulan terakhir. Tercatat ada 34 laporan polisi dengan 38 tersangka, terdiri dari 30 kasus sabu dengan 33 tersangka dan empat kasus obat daftar G dengan lima tersangka.

Barang bukti dari pengungkapan tiga bulan terakhir berupa sabu 762,03 gram, ekstasi 7,5 butir, obat-obatan berbahaya 1.847 butir dan ganja 11,58 gram. Polisi juga mengamankan 33 handphone, uang tunai, 13 sepeda motor, dua sepeda dan 24 timbangan elektrik.

Jika digabung, total barang bukti yang dirilis Polresta Banyuwangi mencapai sekitar 2,1 kilogram sabu, 26,04 gram ekstasi, 11,58 gram ganja dan 10.163 butir obat-obatan berbahaya.

Rofiq menegaskan pemberantasan narkoba harus dilakukan sampai ke akar persoalan, termasuk memutus keuntungan ekonomi yang dinikmati para pengedar.

Ia meminta masyarakat ikut mengambil peran mulai dari lingkungan keluarga hingga tingkat RT dan RW. Menurutnya, keluarga menjadi benteng pertama untuk mencegah generasi muda terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.

“Kalau kemudian level keluarga sudah tidak mempedulikan apa yang terjadi di anggota keluarga, rukun tetangga sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi di lingkungan rukun tetangganya, rukun warga demikian sampai level ke atas, kemudian semuanya merasa tidak peduli, bahwa ini PR kita bersama,” pungkasnya./////////

iklan warung gazebo