Momentum Hari Santri, Ning Lia: Jadikan Nilai Islam sebagai Kekuatan Peradaban

by -6 Views
Wartawan: Ady Prayitno
Editor: Herry W. Sulaksono
Dr. Hj. LIA ISTIFHAMA, S.Sos., S.H.I., S.Sos., I.M.E.I Anggota DPD/MPR RI Provinsi Jawa Timur.
aston banyuwangi

Ning Lia yang juga putri KH Masykur Hasyim itu menilai pesantren memiliki peran strategis dalam membangun peradaban Islam di Nusantara. Selain menjadi pusat pendidikan agama, pesantren juga berperan dalam pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan karakter generasi penerus.

Semangat tersebut tercermin dalam ungkapan syubbanul yaum rijalul ghod, yang bermakna pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan, termasuk para santri, “Konsep SANTRI sebagai nilai yang relevan bagi generasi muda, yakni Smart, Adaptability, Networking, Toughness, Responsibility, dan Integrity. Konsep tersebut menekankan pentingnya kecerdasan, kemampuan beradaptasi, membangun jejaring, ketangguhan, tanggung jawab, dan integritas,” katanya.



Sementara itu, dalam konteks Jawa Timur, Kepala BPSDM Jatim Dr. Ramliyanto S mengatakan, jejak panjang perkembangan Islam yang berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya.

“Salah satunya yakni keberadaan makam Fatimah Binti Maimun di Gresik, tradisi Wali Songo, serta pesantren sebagai bagian dari warisan sejarah yang dapat menjadi inspirasi pembangunan peradaban. Bahkan, jumlah pesantren di Jatim mencapai 7.347 unit dan ini terbanyak di Indonesia,” kata Ramliyanto.

Menurutnya, khazanah keilmuan para ulama juga perlu terus diinventarisasi dan didigitalisasi agar dapat diakses oleh generasi berikutnya. “Dengan demikian, warisan intelektual Islam tidak hanya tersimpan sebagai catatan sejarah, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman. Apalagi, lahirnya Jatim tidak lepas dari peradaban Islam di nusantara,” katanya.

Rektor Universitas Trunojoyo Madura, Prof. Dr. Syafi’, S.H., M.H., dalam sambutannya menekankan pentingnya menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menyinggung ungkapan al-Islamu mahjubun bil-muslimin, yang menggambarkan bahwa citra Islam dapat tertutupi oleh perilaku pemeluknya. Karena itu, nilai-nilai positif dalam ajaran Islam perlu tercermin melalui sikap dan tindakan umat.

Menurutnya, identitas keislaman tidak cukup ditampilkan melalui simbol atau atribut seperti sarung dan kopiah. Hal yang lebih penting ialah menjadikan nilai-nilai Islam sebagai bagian dari karakter, pola pikir, dan gaya hidup, termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta kehidupan sosial.

Melalui forum akademik tersebut, ia berharap mahasiswa dapat memahami nilai-nilai keislaman secara lebih mendalam dan menerapkannya dalam kehidupan.

Ketua pelaksana, M. Bagus Junaidi, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ruang silaturahmi, tetapi juga mendorong pertumbuhan intelektual, kreativitas, dan kepedulian sosial. Ia menekankan pentingnya kejujuran dan keadilan dalam membangun peradaban.

Sementara itu, Gubernur BEM Fakultas Keislaman, M. Fathul Amin Firdaus, menyebut kegiatan tersebut sebagai puncak rangkaian kegiatan kepemimpinan yang diarahkan untuk membangun peradaban. “Melalui Islamic Talkshow tersebut, pembangunan peradaban dari Timur menjadi ajakan bagi generasi muda untuk menghubungkan warisan intelektual Islam dengan kebutuhan masa kini,” katanya. (*/ady)

iklan warung gazebo