Konsep tersebut akan mengandalkan permainan tata cahaya, koreografi ribuan penari, atraksi drone, hingga pertunjukan pendukung untuk membangun pengalaman visual yang berbeda bagi penonton.
Perhelatan tahun ini mengangkat tema “Kembang Dermo”, yang membawa salah satu tradisi dan adat yang berkembang di Banyuwangi ke dalam pertunjukan kolosal Gandrung Sewu.
Rangkaian acara dimulai 22 Oktober melalui penampilan Keroncong Banyuwangi serta Hadrah Kuntulan Caruk. Sehari berikutnya, 23 Oktober, agenda dilanjutkan dengan Musik Jalanan dan Gandrung Terob.
Puncak acara pada 24 Oktober akan diisi Jaranan Show, Meras Gandrung, atraksi drone, pesta kembang api, hingga pertunjukan utama Gandrung Sewu. Rangkaian kemudian ditutup dengan konser musik.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan perubahan konsep tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan format baru dalam penyelenggaraan Gandrung Sewu tanpa menghilangkan akar tradisinya.
“Setiap tahun kami berupaya menghadirkan sesuatu yang baru dalam Gandrung Sewu. Tahun ini untuk pertama kalinya kita hadirkan pada malam hari. Ini bukan sekadar perubahan waktu pelaksanaan, tetapi kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada penonton dan wisatawan,” ujar Ipuk.
Pelaksanaan Gandrung Sewu 2026 juga mendapat dukungan InJourney, holding BUMN yang bergerak di sektor aviasi dan pariwisata. Kolaborasi tersebut turut mendukung konsep pertunjukan malam yang diusung pada tahun ini.
Ipuk menegaskan inovasi dalam penyajian tidak berarti mengubah substansi Gandrung Sewu sebagai pertunjukan seni budaya Banyuwangi.
“Tradisi tidak harus diam di tempat. Tradisi bisa terus bergerak, beradaptasi, dan berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya. Esensi utama Gandrung Sewu tetap seni tari Gandrung itu sendiri, dengan gerak, irama, ekspresi, dan nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur kita,” kata Ipuk.////////











