“Hari Santri adalah momen refleksi bersama. Santri hari ini tidak hanya dituntut menguasai kitab kuning, tetapi juga harus adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keislaman dan keindonesiaannya,” ujar Chaironi Hidayat dalam perbincangan akrab tersebut.
Sementara itu, Kyai Abdul Kholiq menekankan pentingnya sinergi antara ulama, umara (pemerintah), dan pesantren dalam membimbing generasi muda agar tetap memiliki karakter mulia di tengah arus digitalisasi.
“Silaturahmi ini adalah ikhtiar kita untuk menyambung sanad kebaikan. Santri itu jiwa dan raga yang senantiasa menanamkan kedamaian. Lewat momentum Hari Santri ini, kita ingin ingatkan kembali bahwa akhlak dan budi pekerti tetap menjadi pondasi utama,” tutur Kyai Abdul Kholiq.
Rangkaian acara pertemuan tersebut ditutup dengan sesi foto bersama dan saling doa untuk keberkahan serta kemajuan pendidikan pondol pesantren dan santri di bumi Blambangan












