Di sinilah kesenian mengambil peran penting. Sejarah yang terkadang terasa jauh dan kaku dapat menjadi lebih hidup ketika diterjemahkan ke dalam bahasa rupa.
Sebuah lukisan mampu menghadirkan ekspresi, suasana, dan imajinasi yang membuat penikmatnya berhenti sejenak, memandang, lalu bertanya tentang kisah di balik sosok yang ada di hadapannya.
Bagi para seniman Jombang, kesempatan tampil dalam momentum besar Muktamar NU juga menjadi ruang untuk menunjukkan kreativitas lokal. Mereka tidak sekadar memamerkan kemampuan artistik, tetapi turut mengambil bagian dalam merawat memori kolektif masyarakat tentang NU.
Beberapa karya bahkan akan dilelang melalui mekanisme open bidding. Dengan demikian, lukisan-lukisan tersebut tidak hanya berhenti sebagai karya yang dipajang, tetapi berpeluang melanjutkan perjalanan ke ruang-ruang baru bersama para pemiliknya.
Keberadaan galeri lukisan di Tambakberas menunjukkan bahwa Muktamar tidak hanya berbicara mengenai agenda organisasi dan pertemuan para ulama. Ada ruang kebudayaan yang ikut bergerak. Ada seniman yang berkarya, ada sejarah yang kembali diceritakan, dan ada generasi muda yang diajak mengenal masa lalu melalui cara yang lebih kreatif.
Di tengah semarak menyambut para muktamirin dari berbagai daerah, kanvas-kanvas tersebut seakan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Para muassis NU memang telah menjadi bagian dari sejarah. Namun, melalui tangan para pelukis Jombang, perjuangan mereka kembali bertutur—bukan dengan suara, melainkan lewat warna, garis, dan karya seni yang berbicara kepada siapa saja yang bersedia memandangnya.
(/ady)*












