Menurutnya, Gen Z memiliki energi besar yang tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah. NU memiliki tugas memberikan fondasi nilai agar energi tersebut dapat menjadi kekuatan produktif bagi bangsa.
“Gen Z memiliki kecepatan, kreativitas, dan keberanian. NU memiliki pengalaman, tradisi keilmuan, dan nilai yang telah teruji. Kalau kekuatan ini dipertemukan, kita tidak hanya sedang menyiapkan generasi penerus NU, tetapi sedang menyiapkan generasi penerus bangsa,” ungkapnya.
Berikan Ruang bagi Gen Z sebagai Subjek Perubahan
Jombang sebagai kota santri menjadi tempat yang memiliki makna simbolik kuat. Di kota ini, sejarah panjang pesantren dan NU bertemu dengan tantangan zaman yang terus berubah.
Karena itu, Muktamar NU ke-35 diharapkan tidak hanya menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga melahirkan keberanian untuk membuka ruang lebih luas bagi anak muda.
“Jangan hanya mewariskan NU kepada Gen Z. Wariskan nilai-nilainya, berikan mereka ruang untuk berkreasi, lalu biarkan mereka membawa NU dengan cara yang sesuai zamannya. Dengan begitu, marwah tetap terjaga dan khidmah justru semakin kaya,” kata Ning Lia.
Pada akhirnya, tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa” memiliki pesan bahwa NU harus tetap berakar, tetapi tidak boleh berhenti bergerak.
Marwah adalah identitas. Khidmah adalah gerakan. Gen Z adalah energi masa depan.
Ketiganya perlu dipertemukan agar NU mampu terus memberikan manfaat bagi umat dan bangsa. (*/ady)












