Jakarta, seblang.com – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) bersama mitra kerja Komisi IX DPR RI gencar menyosialisasikan program Bangga Kencana di DKI Jakarta.
Kali ini, sosialisasi digelar di Kelurahan Kembangan Selatan, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, Jumat (16/10/2026) siang. Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dan menghadirkan sejumlah narasumber.
Narasumber yang hadir di antaranya Wakil Ketua DPR RI Charles Honoris, Plt. Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN Anita Latifah, S.Si., M.H., serta Dian Anggraini Susanthy dari Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (Sudin PPAPP) Kota Administrasi Jakarta Barat.
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars KB, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai program Bangga Kencana, termasuk upaya percepatan penurunan angka stunting dan penguatan ketahanan keluarga.
Dalam pemaparannya, Charles Honoris mengaku senang dapat hadir di Kecamatan Kembangan Selatan untuk menyosialisasikan berbagai program Kemendukbangga/BKKBN kepada masyarakat.
Menurutnya, masyarakat selama ini lebih mengenal BKKBN melalui program keluarga berencana (KB). Padahal, setelah menjadi kementerian, terdapat berbagai program yang berfokus pada pembangunan keluarga di setiap tahapan kehidupan.
“Apa yang paling diingat dari BKKBN adalah program KB. Sekarang, setelah menjadi kementerian, programnya semakin banyak, salah satunya mencerdaskan keluarga. Ada program GATI yang mendorong peran ayah dalam membentuk karakter anak. Ada juga program SIDAYA untuk lansia agar lebih produktif dan tetap beraktivitas, serta TAMASYA atau Taman Asuh Sayang Anak,” jelas Charles.
Ia juga menyoroti persoalan stunting yang masih ditemukan di wilayah Kembangan Selatan. Berdasarkan data yang disampaikannya, terdapat 12 anak mengalami stunting di wilayah tersebut.
Charles menegaskan bahwa stunting dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak, bahkan berisiko memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.
Karena itu, pemenuhan gizi, pola asuh yang baik, serta lingkungan yang bersih dan sehat menjadi faktor penting dalam pencegahan stunting.
“Secara prinsip, gizi itu penting. Kita harus memastikan anak mendapatkan gizi terbaik dari keluarga. Orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Berikan makanan bergizi dan sumber protein, seperti telur, ayam, dan daging,” ujarnya.
Selain pemenuhan gizi, Charles mengingatkan pentingnya sanitasi dan kebersihan lingkungan untuk mencegah penyakit, seperti diare, yang dapat mengganggu kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Ia berharap kegiatan sosialisasi tersebut dapat menambah pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan stunting dan berbagai program pembangunan keluarga.
“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat bagi kita semua. Kembangan Selatan merupakan wilayah yang cukup luas. Walaupun masih ada kasus stunting, semoga kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat. Salah satu persoalan besar di sini adalah banjir. Semoga kita bisa mengatasinya bersama,” tambahnya.
Sementara itu, Plt. Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN Anita Latifah menjelaskan bahwa keluarga memiliki peran sentral dalam mendukung keberhasilan program pembangunan keluarga.
Ia menyebutkan, Kemendukbangga kini tidak hanya berfokus pada pelayanan keluarga berencana, tetapi juga menjalankan berbagai program yang mendukung kualitas hidup keluarga dari masa kehamilan hingga lanjut usia.
“Yang paling penting adalah keluarga. Bapak dan ibu merupakan bagian terpenting dalam upaya pembangunan keluarga. Dulu, masyarakat mengenal BKKBN melalui alat kontrasepsi, seperti suntik dan pil KB. Sekarang, kami hadir dengan berbagai program pembangunan keluarga melalui Bangga Kencana,” terang Anita.
Ia menjelaskan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan faktor lain yang memengaruhi pertumbuhan. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan melalui perbaikan pola asuh, pemenuhan gizi, sanitasi, dan pendampingan keluarga berisiko stunting.
Anita juga memaparkan sejumlah program Kemendukbangga/BKKBN yang dirancang untuk mendukung keluarga pada berbagai tahapan kehidupan.
Program GENTING atau Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting merupakan salah satu upaya untuk memperkuat keterlibatan berbagai pihak dalam membantu keluarga berisiko stunting. Upaya pemenuhan gizi juga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok sasaran 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Selanjutnya, terdapat program TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), yang menyediakan layanan pengasuhan atau penitipan anak bagi orang tua bekerja. Program ini diharapkan memberikan rasa aman kepada orang tua melalui layanan pengasuhan yang terpantau dan memenuhi standar yang ditetapkan.












