Dorong Mitigasi Stunting dan Pernikahan Dini di Jember, Warga Diajak Kenali Risiko Sejak Awal

by -258 Views
Wartawan: Nur Imatus Safitri
Kegiatan Gerakan Masyarakat Peduli Kesehatan Ibu dan Anak, di Aula Balai Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember.
aston banyuwangi

“Penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika masalah kesehatan sudah muncul, tetapi juga perlu menyasar faktor risiko yang dapat dicegah sejak awal,” ungkapnya.

Ia menegaskan, upaya mitigasi harus mengutamakan pencegahan tanpa mengabaikan penanganan medis bagi masyarakat yang telah mengalami masalah kesehatan.



“Kita tidak bisa hanya melakukan penanganan atau kuratif. Kita juga harus mengedepankan upaya preventif, sesuai dengan paradigma kesehatan saat ini,” paparnya.

Untuk memperkuat langkah tersebut, Poltekkes Kemenkes Malang Kampus 1 Jember berkoordinasi dengan puskesmas, pemerintah desa, dan pemerintah kecamatan. Melalui Gerakan Masyarakat Peduli KIA, warga diharapkan dapat berperan aktif mengenali persoalan kesehatan di lingkungan sekitar dan mengomunikasikannya kepada petugas terkait.

Kepala Puskesmas Panti, dr. Nur Falakhis, menyambut positif keterlibatan perguruan tinggi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, penyampaian informasi kesehatan secara berkelanjutan diperlukan agar pemahaman warga berkembang menjadi kebiasaan yang mendukung kesehatan keluarga.

Ia mencontohkan kegiatan serupa yang pernah dilaksanakan di Desa Serut, Kecamatan Panti, yang dinilai berdampak positif terhadap ketertarikan masyarakat untuk datang ke Posyandu, mengikuti imunisasi, serta memanfaatkan layanan kesehatan bagi kelompok lanjut usia.

“Kami berharap di Desa Glagahwero juga ada perkembangan positif. Edukasi kesehatan tidak cukup hanya sekali, tetapi harus dilakukan berulang kali agar terbentuk pola pikir dan kebiasaan masyarakat yang lebih baik,” ujar Nur Falakhis.

Sementara itu, Camat Panti Hendra Kusuma mengakui bahwa pernikahan usia dini masih menjadi persoalan yang ditemukan di wilayahnya. Ia berharap kegiatan tersebut memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya kesiapan berkeluarga dan kesehatan ibu serta anak.

“Terima kasih sudah peduli kepada masyarakat kami, kami dan Kades Glagahwero bahwasanya di Kecamatan Panti masih banyak masyarakat yang melakukan pernikahan di usia dini. Jadi kehadiran Poltekkes ini memberikan motivasi dan sosialisasi, bahwasanya cikal bakal kesehatan masyarakat itu berasal dari ibu dan anak,” kata Hendra.

Ia menambahkan, sosialisasi melibatkan KUA, puskesmas, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, serta berbagai lapisan masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas jangkauan edukasi sekaligus memperkuat upaya pencegahan pernikahan usia dini.

Mitigasi stunting dan pernikahan dini di Kecamatan Panti membutuhkan langkah berkelanjutan, mulai dari edukasi kesehatan reproduksi, pendampingan calon orang tua, pemeriksaan kehamilan sejak dini, hingga peningkatan partisipasi masyarakat dalam pelayanan kesehatan.

Melalui sinergi tenaga kesehatan, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat, risiko kesehatan ibu dan anak diharapkan dapat dikenali lebih awal. Dengan demikian, upaya pencegahan tidak hanya berfokus pada penanganan masalah yang telah terjadi, tetapi juga pada pengurangan faktor risiko agar ibu memperoleh pelayanan yang tepat dan anak memiliki kesempatan tumbuh kembang secara optimal.

iklan warung gazebo