Kemampuan berbahasa Indonesianya berkembang ketika memasuki jenjang SMA di MAN 1 Jember. Di lingkungan sekolah, ia lebih banyak berinteraksi dengan teman-teman yang menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa.
Namun, perjalanan menemukan ciri khas konten juga berkaitan dengan proses menerima diri sendiri. Nurul mengaku pernah merasa kurang percaya diri dengan suaranya yang terdengar lambat ketika rekaman diputar kembali.
“Jadi sejujurnya saya kalau ngomong tuh enggak tahu nadanya seperti apa, kayak gimana. Malah sempat dulu itu saya benci sama suara saya. Jadi kalau saya ngomong, misal wawancara gini ya, nanti saya play nih siaran ulangnya. ‘Ya ampun, suaranya kok lelet banget! Suaranya kok pelan banget!’ Kayak gitu,” tuturnya.
Pada masa awal membuat konten menggunakan bahasa Indonesia, ia bahkan mempercepat rekaman hingga 1,3 kali agar suaranya terdengar lebih cepat. Seiring perkembangan kontennya, gaya bicara yang dahulu dianggap sebagai kekurangan justru menjadi bagian dari karakter yang mudah dikenali.
Di balik proses kreatif tersebut, dukungan suami turut membantu Nurul mengembangkan kontennya. Ilham Akbar, yang menikahinya pada 2020, terlibat langsung dalam proses produksi, mulai dari merekam video hingga menyiapkan perlengkapan.
“Ya, kalau dari saya sih pasti bangga ya. Jadi emang istri ini kan dulu fokusnya di beauty, kan. Cuma ibaratnya kan enggak ada ciri khas, enggak ada keunikan, kan. Akhirnya istri ini ketemu keunikan-keunikan sendiri, akhirnya saya ya saya bangga juga kan ya,” kata Ilham.
Ilham mengaku lebih banyak berperan di belakang layar ketika istrinya tampil di depan kamera.
“Iya, jadi kayak misalnya ada konten di mana, itu saya pasti selalu bawa propertinya. Jadi saya siapin semuanya. Jadi istri tinggal ibaratnya on frame lah, saya yang di belakang layar,” ujarnya.
Perkembangan konten juga membuka kesempatan bagi Nurul untuk bekerja sama dengan berbagai pihak. Salah satunya melalui kolaborasi dengan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo. Dalam video bersama tersebut, Nurul menyisipkan promosi wisata Situbondo.
Menurutnya, popularitas di media sosial dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jadi, terus Bapak Rio ini alhamdulillah baik banget, maksudnya dengan kesibukannya yang seperti itu, mau ngonten Maduraan. Tapi di situ saya juga pengin kontennya itu berbobot gitu ya, makanya di situ saya selipin konten yang mempromosikan wisata Situbondo,” ungkapnya.
Nurul membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak selama memiliki tujuan positif. Ia berharap konten yang dibuat dapat membantu memperkenalkan potensi daerah sekaligus memberikan manfaat bagi penonton.
Perjalanan Nurul Hasanah dari pengulas kecantikan menjadi kreator konten berbahasa Madura menunjukkan bahwa menemukan identitas di media sosial tidak selalu harus dimulai dengan konsep yang rumit. Konsistensi dalam mengembangkan karakter dan keberanian menerima keunikan diri menjadi bagian penting dari proses menemukan pembeda di tengah banyaknya kreator digital.///////












