Magetan, seblang.com – Pandemi COVID-19 seolah tak menjadi masalah keterpurukan ekonomi. Hal itu dirasakan oleh masyarakat pelaku peternak ayam petelur di desa Sumber Sawit Kecamatan Sidorejo Kabupaten Magetan.
Sarni, 53 tahun merupakan warga lokal yang telah merintis usaha peternakan sejak 2010 lalu. Berkat kerja keras, ketelatenan, keuletan dan kejujuran yang dimiliki pria paruh baya tersebut, peternakannya mampu menembus angka puluhan hingga ratusan juta per bulan.
Ditemani sang istri, Parmi (48), kini peternakan milik pasutri di dukuh Belik desa Sumber Sawit tersebut mengalami peningkatan yang positif dari tahun ke-tahun.
“Awal mula beternak dulu tahun 2010 dengan modal ±400 ekor ayam mas, alhamdulillah sekarang sudah mencapai 5 ribu ekor,” ujarnya kepada jurnalis, Senin(7/12).
Di dalam usaha peternakan, Sarni mengakui bahwa semua peternakan pasti memiliki dampak terhadap lingkungan sekitar, terutama bau yang ditimbulkan dari kotoran ayam. Akan tetapi, dengan penanganan yang benar, dampak tersebut dapat diminimalisasi seminim mungkin.
“Kita hidup bersosial mas, kita punya tetangga, kalau bisa ya jangan sampai menyusahkan. Kalau masalah bau kotoran ayam bisa diminimalisasi dengan penyemprotan, ada obatnya kok mas dan harganya juga murah, tinggal telaten apa nggak gitu aja,” imbuhnya.
Sarni juga menegaskan bahwa peternakannya tidak luput dari pasang surut arus perekonomian. Kendala utama yang pernah dialami Sarni adalah tidak liniernya antara biaya pakan dan perawatan dengan harga jual telur ayam. “Agak susah mas, kalau harga pakan naik, tapi harga telur malah turun. Dulu itu pernah, akibat dampak dari turunnya harga telur, peternak disini sampe nandu-nandu telur, gak bisa terjual hingga banyak yang busuk.
Selain pernah terdampak akibat turunnya harga telur dalam usahanya, Sarni juga pernah ditipu saat penjualan kotoran ayam. Kurang lebih sebanyak 2 truk kotoran ayam yang dikumpulkan tidak terbayar. “Belum lama mas, kami kumpulin sampai sekitar 150 karung, ngakunya sih teman anak saya, eh ternyata hilang gitu aja, gak tau mikirnya gimana, kami ikhlaskan saja,” keluh Sarni.











