Skrining Pap Smear dan IVA Kian Digencarkan, Perempuan Diminta Tak Tunda Pemeriksaan Leher Rahim

by -68 Views
aston banyuwangi

Ajakan untuk melakukan pemeriksaan dini kanker leher rahim semakin sering disampaikan melalui puskesmas, rumah sakit, dan kampanye kesehatan di media sosial. Pemeriksaan seperti pap smear dan IVA (inspeksi visual dengan asam asetat) kini lebih mudah diakses. Meski begitu, masih banyak perempuan yang menunda pemeriksaan karena merasa sehat, malu, atau takut dengan hasilnya.



Padahal, kanker leher rahim termasuk jenis kanker yang dapat dicegah dan dideteksi sejak dini. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa kanker leher rahim merupakan jenis kanker keempat yang paling banyak ditemukan pada perempuan di seluruh dunia. Pada 2022, diperkirakan terdapat sekitar 660.000 kasus baru. WHO juga menekankan bahwa skrining dan penanganan lesi prakanker merupakan salah satu langkah penting untuk menekan angka kasus.

Para dokter kandungan menilai bahwa kesadaran untuk memeriksakan diri perlu dibangun sejak usia produktif. Menjalani skrining rutin bersama dokter obgyn terbaik di jakarta maupun di fasilitas kesehatan terdekat dapat membantu perempuan mengetahui kondisi leher rahimnya sebelum muncul keluhan.

Bila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan yang memerlukan tindakan, pasien juga dapat berdiskusi dengan dokter mengenai pilihan penanganan lanjutan dengan bedah robotik atau metode lain yang sesuai dengan tahap dan jenis kondisinya.

Mengapa Skrining Tetap Penting Meski Tidak Ada Keluhan?

Perubahan sel pada leher rahim dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala. Jika sudah berkembang menjadi kanker, keluhan seperti perdarahan setelah berhubungan intim, perdarahan di luar jadwal haid, atau nyeri panggul dapat muncul.

Karena itu, skrining dilakukan justru saat perempuan merasa sehat. Tujuannya adalah menemukan perubahan sel prakanker yang masih bisa ditangani dengan lebih sederhana sebelum berkembang menjadi kanker.

Menurut Kementerian Kesehatan RI pada Januari 2026, kanker leher rahim masih menjadi kanker terbanyak kedua pada perempuan Indonesia, dan sekitar 70 persen kasus baru terdiagnosis pada stadium lanjut.

Mengenal Pap Smear dan IVA

Pap smear, IVA, dan tes HPV merupakan beberapa metode yang dapat digunakan untuk membantu mendeteksi risiko kanker leher rahim. Ketiganya memiliki cara kerja yang berbeda.

  • Pap smear: mengambil sedikit sampel sel dari leher rahim untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini bertujuan menemukan perubahan sel yang tidak normal.
  • IVA: mengoleskan cairan asam asetat pada leher rahim. Perubahan warna yang terlihat dapat membantu tenaga kesehatan mengenali area yang dicurigai mengalami kelainan
  • Tes HPV: memeriksa apakah terdapat virus HPV tipe berisiko tinggi yang dapat menyebabkan kanker leher rahim.
  • jenis pemeriksaan yang dipilih bergantung pada usia, riwayat kesehatan, panduan skrining yang digunakan, dan ketersediaan fasilitas kesehatan.

Dokter atau tenaga kesehatan akan menjelaskan jadwal pemeriksaan ulang berdasarkan hasil skrining yang diperoleh.

Hambatan yang Masih Sering Ditemui

Di lapangan, tenaga kesehatan masih menemui berbagai alasan yang membuat perempuan enggan menjalani skrining. Beberapa di antaranya adalah:

  • Rasa malu atau tidak nyaman menjalani pemeriksaan area intim
  • Anggapan bahwa skrining hanya perlu dilakukan bila ada keluhan
  • Kekhawatiran berlebihan terhadap hasil pemeriksaan
  • Keterbatasan waktu karena pekerjaan dan urusan rumah tangga

Penjelasan yang mudah dipahami dapat membantu perempuan mengenal manfaat pemeriksaan dan mengurangi rasa takut atau malu saat menjalani skrining. Perempuan juga dianjurkan untuk tidak ragu bertanya kepada tenaga kesehatan mengenai prosedur pemeriksaan agar merasa lebih tenang.

Bila Hasil Skrining Tidak Normal

Hasil skrining yang tidak normal tidak selalu berarti kanker. Hasil skrining yang tidak normal belum tentu berarti kanker. Hasil tersebut bisa menunjukkan adanya infeksi HPV atau perubahan sel yang perlu diperiksa lebih lanjut. Dokter mungkin menyarankan pemeriksaan menggunakan alat pembesar khusus yang disebut kolposkopi atau mengambil sedikit jaringan untuk diperiksa di laboratorium (biopsi). Pada kasus tertentu, dokter dapat merekomendasikan tindakan untuk mengangkat jaringan yang bermasalah.

iklan warung gazebo