Arief menjelaskan, jika selama ini yang diterima masyarakat banyak sampah digital, hoax dan disinformasi.
“Sampah digital, banyak hoax, kabar bohong, disinformasi, video tidak sesuai konteks. Hal tersebut bisa mengancam di tengah masyarakat, memecah belah, saling curiga, ini sangat berbahaya. Kedua memang media digital mendapat tantangan dari media sosial. Media siber yang ekstrem itu kan betul-betul dikelola dengan serius,” tuturnya.
Tantangan kedua adalah media sosial. Bahwa di era digital saat ini, tantangan datang dari media sosial. Media mainstream benar-benar dikelola dengan serius dan profesional.
Sementara kalau media sosial justru lebih banyak yang ke pribadi-pribadi karena tidak memiliki basic jurnalistik, tidak paham etika dalam menyampaikan informasi ke publik.
“Itu justru yang banyak pengikutnya, sementara kita media mainstream atau media besar kalah dengan influencer atau buzzer. Padahal para buzzer seringkali memberi informasi ke publik itu kebanyakan yang tidak terverifikasi, datanya ngawur, bahkan disinformasi. Ada juga yang informasi-informasi justru dibuat dan dipabrikasi untuk membohongi masyarakat,” sambungnya.
Arief Rahman berharap, agar bagaimana media yang sama-sama punya kepentingan untuk tumbuh, bisnisnya jalan dan secara profit punya keuntungan. Sehingga berpengaruh terhadap karyawan dan wartawan. Sehingga dalam Rakerwil tersebut, AMSI Jatim mengupayakan agar pengelola media lebih profesional dalam manajerial perusahaannya.
“Kita membantu media-media anggota untuk dapat kerja sama, mendapatkan placement iklan. Karena itu, AMSI ke depan akan membuat agency sendiri sehingga media-media akan mendapatkan limpahan kue iklan yang secara nasional kan besar. Selama ini yang dinikmati media-media nasional yang sebenarnya konten lokal sangat menarik untuk masyarakat, tetapi iklannya belum padahal media itu urat nadinya yaa iklan, bekerja sama dengan berbagai pihak,” pungkasnya.///











