Sementara itu, bagian bahu jalan yang mengalami gerusan akan diperkuat dengan menyempurnakan pemasangan sandbag dan menambahkan terpal. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi pengikisan tanah ketika terjadi hujan.
“Untuk sandbag akan disempurnakan, ditambahi terpal agar kalau sekali-sekali ada hujan itu tidak cepat longsor,” jelas Edy.
Pemerintah menyebut langkah tersebut masih merupakan penanganan sementara. Kajian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan bentuk perbaikan permanen yang dapat dilakukan pada kawasan tersebut.
Selain perbaikan fisik, pemerintah juga menyiapkan reboisasi hingga Desember 2026. Cabang Dinas Kehutanan akan dikoordinasikan untuk menyediakan bibit tanaman yang tidak hanya membantu menjaga kondisi tanah, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Dari cabang Dinas Kehutanan juga sepakat akan mengirimkan bibit-bibit, apakah itu dalam bentuk tanaman yang bermanfaat seperti petai, terus kemudian kaitan dengan duku, sehingga masyarakat sekitar para petani masih bisa untuk menikmati hasilnya,” ujar Edy.
Untuk aktivitas lalu lintas, belum ada keputusan mengenai penutupan jalur Gumitir. Kendaraan masih dapat melintas dengan pengaturan situasional sesuai kebutuhan penanganan dan kondisi keamanan di lapangan.
Apabila perbaikan permanen nantinya mendapat persetujuan Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBPJN, pemerintah akan kembali melakukan koordinasi terkait rekayasa lalu lintas, termasuk kemungkinan penutupan sementara.
“Kalau nanti perbaikannya bersifat permanen, sudah ada lampu hijau dari Kementerian PU untuk B2PJN sini, maka barulah kita akan koordinasi lagi apakah ditutup atau tidak. Sementara masih belum, ini masih sifatnya sementara,” kata Edy.
Pemerintah mengingatkan pengguna jalan untuk tetap waspada ketika melintasi jalur Gumitir, khususnya saat hujan. Hasil pemantauan dan penanganan akhir pekan akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah lanjutan terhadap kondisi jalan tersebut.












