Selain soal pelestarian bahasa, Ipuk menyebut festival literasi juga menjadi sarana bagi siswa untuk belajar berpikir kritis. Sebelum mengikuti perlombaan, peserta harus membaca dan memahami informasi yang kemudian disampaikan melalui penampilan mereka.
“Sebelum lomba tentu anak-anak harus belajar, membaca, kemudian memahami informasi dan poin-poin penting di dalamnya. Sehingga mereka bisa menyampaikan pesan yang tepat. Di sinilah mereka juga belajar bagaimana berpikir kritis,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Banyuwangi, Sutikno, mengatakan Festival Literasi Osing 2026 membuka sembilan kategori lomba.
“Antara lain lomba geguritan (puisi Osing), ngewer (komedi tinggal), nulis cerita Osing, nulis aksara Osing, mendongeng, menyanyi lagu Osing, pidato bahasa Osing, memengan sandiwara, serta mocoan lontar,” ujar Sutikno.
Khusus lomba mocoan lontar, kata dia, kategori tersebut hanya dibuka untuk peserta SMP. Sedangkan delapan kategori lainnya dapat diikuti siswa SD maupun SMP.
Total terdapat 429 peserta yang mengikuti festival tersebut. Rinciannya, 259 peserta dari jenjang SD dan 170 peserta dari jenjang SMP.
Selain digelar di area creative space kawasan Lapangan Taman Blambangan, sejumlah perlombaan juga dilaksanakan di gedung SDN 1 Kepatihan.
“Juara satu dari masing-masing lomba nantinya akan kita kirim untuk mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat provinsi dan nasional,” pungkasnya.
Pembukaan Festival Literasi Osing 2026 juga diisi dengan sejumlah unsur budaya masyarakat Osing, seperti iringan lagu-lagu Osing dan prosesi kupat luar.












