Pohon Beringin Tumbang di Situbondo Tiba-tiba Tegak Lagi, Warga Sempat Dibuat Merinding

by -23 Views
Wartawan: Kadari

Situbondo, seblang.com – Masyarakat Dusun Semmekan Utara, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, dihebohkan oleh fenomena alam yang tak lazim. Sebuah pohon beringin raksasa yang sempat tumbang akibat cuaca ekstrem, secara mengejutkan kembali berdiri tegak setelah dahan dan rantingnya dipangkas oleh warga.

Peristiwa ini bermula saat hujan deras dan angin kencang merobohkan pohon beringin yang berlokasi di area pemakaman setempat. Karena melintang dan menghalangi akses jalan, warga sekitar berinisiatif melakukan kerja bakti untuk membersihkan material pohon tersebut pada Senin (13/4/2026).

Aji (35), salah seorang warga yang ikut dalam proses pembersihan, menuturkan bahwa proses kembalinya pohon tersebut ke posisi semula terjadi secara perlahan saat beban di bagian atas pohon mulai berkurang.

“Awalnya pohon roboh total diterjang angin. Saat kami sibuk memotong ranting-rantingnya agar jalan bisa dilewati, tiba-tiba pohon itu bergerak naik dan kembali berdiri tegak,” ungkap Aji.

Senada dengan Aji, Irwan (40), tokoh pemuda setempat, menambahkan bahwa lokasi tumbangnya pohon tersebut memang dianggap sakral oleh warga. Pohon beringin itu tumbuh hanya berjarak sekitar satu meter dari makam pembabat (pendahulu) Dusun Semmekan, yakni Ju’ Rambai dan Ju’ Syarifah.

“Nuansa mistis memang kental dirasakan warga, apalagi ini lokasinya tepat di dekat makam tokoh sesepuh dusun. Hal itulah yang memicu spekulasi di masyarakat,” jelas Irwan.

Meski dikaitkan dengan unsur keramat, fenomena ini dapat dijelaskan secara ilmiah melalui mekanisme self-righting. Secara teknis, jika sistem perakaran pohon masih sebagian tertanam kuat di tanah dan memiliki elastisitas yang baik, akar tersebut akan menyimpan energi ketegangan (tensi) seperti sebuah pegas raksasa.

Saat pohon tumbang, beban berat dari tajuk (daun dan ranting) menahan pohon tetap di tanah. Namun, ketika warga memotong dahan dan ranting tersebut, beban gravitasi yang menahan batang berkurang drastis. Akibatnya, tarikan dari akar yang masih tertanam kuat menarik kembali batang pohon ke posisi vertikal.

Pasca-kejadian tersebut, warga Desa Klatakan memutuskan untuk tidak melanjutkan penebangan. Sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal dan menjaga kondusivitas desa, warga menggelar doa bersama dan selamatan di sekitar lokasi.

“Warga sepakat untuk tidak mengusik lagi pohon tersebut. Sekarang lokasi ini ramai dikunjungi orang yang penasaran, bahkan videonya sudah viral di media sosial,” pungkas Aji.

Hingga saat ini, pohon beringin tersebut tetap berdiri tegak di area pemakaman, menjadi perpaduan antara fenomena fisika dan cerita tutur masyarakat yang akan terus dikenang.

iklan warung gazebo