Jember Catat Dua Rekor Dunia MURI Lewat Kirab Ancak Agung dan Gunungan Suwar-Suwir

by -14 Views
Wartawan: Nur Imatus Safitri
Foto: Antusiasme masyarakat saat pengambilan gunungan buah dan sayuran di acara Ancak Agung.
aston banyuwangi

Jember, seblang.com – Tradisi Ancak Agung di Kabupaten Jember kembali mencatat sejarah. Sebanyak 527 ancak agung diarak dalam Pawai Budaya Ancak Agung, Sabtu (22/8/2026) sore.

Kirab yang digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW itu sekaligus mengantarkan Jember meraih dua Rekor Dunia MURI.



Kirab dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dari simpang tiga Jalan Gajah Mada dan Jalan Sultan Agung. Ratusan peserta kemudian berjalan kaki sejauh sekitar 1,1 kilometer menuju Alun-Alun Jember Nusantara sambil membawa ancak yang berisi aneka hasil bumi dan makanan.

Ancak tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat. Sesampainya di alun-alun, seluruh ancak dikumpulkan untuk mengikuti rangkaian kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Senior Representatif MURI Ari Andriani mengatakan, jumlah 527 ancak berhasil melampaui rekor sebelumnya yang tercatat sebanyak 449 ancak.

“Ancak agungnya 527, rekor sebelumnya 449. Jadi jumlahnya minimal 10 persen dari jumlah rekor yang ada sudah bisa menumbangkan rekor sebelumnya,” ujarnya.

Tak hanya melalui kirab ancak, Jember juga mencatat rekor dari kuliner khas daerah. Sebanyak 1.600 bungkus suwar-suwir disusun menjadi sebuah gunungan dengan tinggi mencapai 3,7 meter.

MURI kemudian mengukuhkan dua pencapaian tersebut sebagai rekor dunia, yakni kirab ancak agung terbanyak dan rangkaian suwar-suwir berbentuk gunungan tertinggi.

Menurut Ari, pencatatan tersebut tidak hanya melihat jumlah, tetapi juga mempertimbangkan kekuatan budaya lokal yang dibawa dalam kegiatan.

Ancak Agung dinilai menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jember dalam mengungkapkan rasa syukur. Sementara suwar-suwir merupakan salah satu kuliner yang memiliki identitas kuat sebagai produk khas Jember.

“Ketua Umum MURI sangat memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah yang mau mengangkat kearifan lokal. Suwar-suwir, kemudian Ancak Agung ini kan akulturasi budaya,” katanya.

Ari berharap rekor tersebut tidak berhenti sebagai pencapaian seremonial. Menurutnya, momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan tradisi dan produk khas Jember kepada masyarakat yang lebih luas.

Di sisi lain, Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan bahwa pelaksanaan Kirab Ancak Agung tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar rekor.

Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih luas, mulai dari memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, menyemarakkan momentum kemerdekaan, hingga memperkuat toleransi antarumat beragama.

“Ini adalah sebuah acara yang menjadi ikon Jember, Jember Semarak, dan Jember Agung,” kata Fawait.

Ia menyebut keterlibatan berbagai pemuka agama dalam kegiatan tersebut menjadi simbol kebersamaan masyarakat Jember.

Para pemuka agama dari berbagai latar belakang hadir dalam satu rangkaian acara, bersama masyarakat yang memenuhi kawasan pusat kota.

Fawait juga menyampaikan pesan agar semangat mencintai Nabi Muhammad SAW berjalan seiring dengan sikap menghormati umat beragama lainnya.

“Jangan mengaku cinta Rasulullah kalau masih mengganggu ibadah dari umat beragama yang berbeda. Itu pesan dari Ancak Agung pada sore hari ini,” tegasnya.

Pemecahan rekor tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Jember memperkuat identitas budaya daerah. Setelah pengukuhan rekor, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan agenda keagamaan dan sholawatan pada malam hari.

Bagi masyarakat Jember, kirab 527 ancak dan gunungan 1.600 suwar-suwir akhirnya bukan hanya menjadi catatan dalam rekor MURI. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara tradisi, budaya, kuliner lokal, peringatan keagamaan, serta pesan persatuan dan toleransi.

iklan warung gazebo