Gus Barra: Pangan Jangan Disepelekan, Mojokerto Genjot Hilirisasi hingga Pekarangan Produktif

by -87 Views
Wartawan: Harianto
Editor: Herry W. Sulaksono
aston banyuwangi

Mojokerto, seblang.com  – Pangan bukan sekadar urusan mengisi perut. Di dalamnya ada urusan ekonomi, peluang usaha, hingga kemandirian daerah. Pemerintah Kabupaten Mojokerto pun mendorong potensi pangan lokal agar tak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi bisa diolah menjadi produk bernilai jual lebih tinggi.

Langkah itu ditandai dengan penyerahan bantuan gabah kering giling senilai total Rp349 juta, 160 unit alat pembuat mi, serta sertifikat izin edar pangan segar asal tumbuhan produk dalam negeri kepada pelaku usaha. Penyerahan dilakukan Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa di Pendopo Graha Maja Tama (GMT), Selasa (20/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-46.



Bagi Gus Barra, sapaan akrab Muhammad Albarraa, ketahanan pangan bukan perkara kecil. Sebab, kemajuan suatu bangsa tetap bergantung pada kemampuan memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya.

“Pangan itu jangan pernah disepelekan. Semaju apa pun negaranya, kalau perutnya lapar, tetap akan membutuhkan pangan,” tegasnya.

Bantuan gabah kering giling disalurkan kepada tiga kelompok tani. Gapoktan Tani Makmur di Desa Leminggir, Kecamatan Mojosari, menerima bantuan senilai Rp100 juta. Kelompok Tani Rukun Tani di Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, memperoleh Rp50 juta. Sedangkan Kelompok Tani Podo Rukun di Desa Ngabar, Kecamatan Jetis, mendapatkan Rp199 juta.

Sementara itu, 160 unit alat pembuat mi diberikan kepada masyarakat Kecamatan Pacet. Sertifikat izin edar pangan segar asal tumbuhan produk dalam negeri untuk usaha kecil diserahkan kepada PT Sari Tani Indonesia Group dan UD Raih Berkah.

Bantuan tersebut bukan hanya soal distribusi peralatan dan dukungan bagi petani. Pemkab Mojokerto juga ingin mendorong masyarakat melihat pangan sebagai peluang ekonomi yang bisa dikembangkan.

Kabupaten Mojokerto memiliki modal yang cukup beragam. Ada hasil pertanian, perikanan, peternakan, hingga perkebunan. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut diolah agar menghasilkan nilai tambah.

Gus Barra menilai, hilirisasi menjadi salah satu kunci. Hasil pertanian tidak harus selalu dijual dalam bentuk mentah. Dengan pengolahan dan inovasi, komoditas yang semula bernilai ekonomis rendah bisa berubah menjadi produk dengan harga jual lebih tinggi.

iklan warung gazebo