“Jadi vaksin LSD ini berbeda dengan vaksin PMK ya. Kalau vaksin PMK itu selalu ready. Tetapi kalau vaksin LSD ini belum tentu ready,” tambahnya.
Menurutnya, penyakit LSD di Situbondo awalnya ditemukan di Kecamatan Banyuputih. “Jadi pertengahan tahun 2023 ada satu, dua ekor sapi yang terpapar LSD itu sudah ditangani oleh petugas kami. Tetapi yang namanya lalu lintas ternak setiap saat selalu ada. Idealnya kalau ada sapi yang terkena LSD itu harus dikarantina, namun sama masyarakat ada yang dijual ke pasar ternak,” tutur Sulis.
Selain mempercepat vaksinasi, lanjut Sulis, Disnakkan Situbondo juga melakukan pengobatan kepada sapi yang terpapar LSD. Ia juga memastikan stok obat-obatan LSD aman.
“Obat LSD itu sudah ada di semua Puskeswan kalau petugas kami dapat laporan ada sapi yang sakit LSD pasti langsung didatangi dan diobati. Yang masuk ke kami itu ada 34 ekor sapi yang terpapar LSD. Setelah kami obati 23 ekor sudah sembuh dan sisanya masih dalam pengobatan. Untuk yang mati karena LSD tidak ada laporan ke kami,” tegasnya.
Sulis menjelaskan, penyebaran LSD melalui gigitan nyamuk, lalat penghisap darah, kutu sapi hingga serangga yang sebelumnya telah menggigit sapi yang sudah terpapar LSD.
“Apalagi sekarang memasuki musim penghujan, sehingga lumayan cepat penyebarannya. Oleh karena itu, menjaga kebersihan kandang sangatlah penting,” pungkasnya.///////










