“Secara umum, saya di sini untuk menikmati pengalaman dan bersenang-senang,” kata Lane.
Sementara itu, Tika, peserta asal Yogyakarta, menjadikan Nggravel Glenmore sebagai kesempatan untuk memadukan olahraga dengan perjalanan wisata.
Meski belum pernah menjajal lintasan gravel Glenmore, pengalaman mengikuti sejumlah kompetisi sepeda membuatnya optimistis menghadapi tantangan tersebut.
“Niat saya ikut tidak hanya menyelesaikan perlombaan. Namun juga berolahraga sambil berwisata. Karena di Banyuwangi sudah tidak diragukan lagi, pemandangannya itu selalu spektakuler,” tuturnya.
Bagi Azrul, kehadiran Nggravel Glenmore semakin memperkaya kalender kompetisi sepeda di Banyuwangi. Sebelumnya, daerah tersebut telah menjadi tuan rumah Tour de Banyuwangi Ijen, Ijen KOM, BIG Downhill, serta BMX Supercross.
“Sudah sangat komplit Banyuwangi,” ucapnya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan penyelenggaraan kompetisi olahraga di Glenmore membuka peluang lebih luas untuk mengenalkan potensi kawasan tersebut kepada wisatawan.
Terletak di lereng Gunung Raung, Glenmore memiliki bentang alam perkebunan dengan sejumlah komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi.
“Glenmore juga memiliki berbagai potensi di antaranya sebagai penghasil kakao berkualitas ekspor, serta didukung komoditas lain seperti tebu, karet, dan kopi,” jelas Ipuk.
Menurutnya, kegiatan olahraga yang mendatangkan peserta dari berbagai daerah dan negara dapat menjadi sarana promosi pariwisata sekaligus memperkenalkan kekayaan produk lokal Banyuwangi.
“Terima kasih Pak Azrul yang sudah konsisten gelar event sepeda di Banyuwangi. Kami harap event ini dapat menyuntikkan energi baru bagi sport tourism di Banyuwangi,” ujar Ipuk./////////











