Saatnya Media Massa Bersatu Lawan Media Sosial

by -268 Views
Girl in a jacket

Banyuwangi, seblang.com – Sekarang saatnya menumbuhkan soliditas dan kebersamaan sesama pengusaha media massa seiring dengan meningkatnya perkembangan media massa dengan tantangan dan dinamika yang harus dihadapi. Pesaing atau kompetitor sesungguhnya bagi media massa dalam era digital saat ini adalah media sosial bukan lagi antar-lembaga media massa.

Ungkapan itu disampaikan Ainur Rohim, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur dalam acara Seminar Kampanye Sehat di Media Massa yang digelar oleh PWI Kabupaten Banyuwangi di Pendapa Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi .

iklan aston

Menurut Ainur Rohim, salah satu indikator persaingan antara media massa dengan media sosial adalah berdasarkan riset pada tahun 2015 jumlah total iklan yang tercatat sekitar Rp. 163 triliun yang sekitar 62 persen merupakan iklan yang diraih televisi (TV).

Kemudian sekitar 7,2 persen atau sekitar Rp 12 Triliun sekitar 70 % diraih oleh media sosial seperti Facebook, Google, Twiter, Youtube dan lain-lain. Sementara jurnalistik online mendapatkan bagian iklan sebesar 30 persen dari Rp. 12 T saja.

“Itu fakta yang tentunya sangat memprihatinkan, tapi jangan sampai kemudian hal itu mematahkan semangat semua jurnalis,” tegas Ainur Rohim.

Lebih lanjut pria berpenampilan kalem itu menambahkan negara-negara AS dan Eropa merasa kecolongan dan kewalahan dalam menghadapi media sosial tersebut serta kesulitan dalam menarik pajak. Apalagi negara Republik Indonesia, pemerintah tidak mampu menarik pajak dari mereka (Youtube, FB, Twiter dan lain sebagainya).

Seyogyanya Dewan Pers bekerja sama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI berupaya mencari solusi atas persoalan yang terjadi.”Sudah saatnya mewujudkan soliditas sesama organisasi profesi dan membangun sinergitas positif dalam menghadapi pesaing terberat yang sesungguhnya dalam mendapatkan hak iklan yang ada,”imbuh dia.

Dalam upaya menjaga eksistensi media massa sebagai pilar demokrasi ke-empat, pemerintah maupun stakeholder atau pemangku kepentingan yang lain diharapkan bisa memberikan atensi lebih untuk media massa. Karena, platform media massa itu pada hakikatnya punya tugas dan kewajiban untuk memberikan pendidikan dan literasi kepada masyarakat luas. Terlebih, pendidikan masyarakat di media massa itu jauh lebih terarah dan terukur serta memiliki pedoman yang jelas.

“Di media massa, ada proses klarifikasi, verifikasi, dan konfirmasi, sebelum suatu informasi itu disampaikan kepada masyarakat. Sementara di media sosial tiga proses tersebut tidak ada,” jelasnya.

Salahsatu dampak informasi yang disebarkan melalui media sosial bisa mengakibatkan masyarakat menjadi kelompok yang apatis. Bahkan disisi yang lain dengan mudahnya mendapatkan  informasinya itu tidak tersaring dengan baik maka sebagian masyarakat akan tumbuh menjadi kelompok yang liar. Para pihak memiliki tugas dan kewajiban untuk menjaga dan melindungi masyarakat agar tidak mendapatkan informasi yang sebaik di media massa bermartabat proporsional dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Dalam masa kampanye pilkada serentak jurnalis memiliki peran dan fungsi dalam melakukan pendidikan politik dan membangun kesadaran masyarakat agar mampu menerima perbedaan pendapat maupun beda pilihan. Sebuah realitas yang lumrah dan wajar dalam alam demokrasi agar timbul konflik sosial atau polemik di masyarakat,” imbuhnya.

Sedangkan nara sumber dalam acara seminar adalah Kapolresta Banyuwangi, Kombespol Arman Asmara Syarifudin dan Ahmad Jauhar dari Dewan Pers RI.

Wartawan : Nurhadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.