“Distributor disini kan ada empat, di wilayah kota ada Tiga, dan di daerah Barat Besuki satu,” Ujarnya.
Kata Ruben, dari empat distributor tersebut, dalam satu minggu biasanya mendapatkan minyak dari pabrik hingga 10 ton. Nah dari distributor itulah, migor diecer ke setiap toko, itupun tidak langsung dihabiskan dalam satu hari. Tetapi diecer, agar masyarakat tidak tambah kebingungan. Sebab kebutuhan masyarakat terhadap migor cukup banyak.
“Mekanisme yang digunakan itu, migor sengaja dibatasi, dalam satu orang harus dapat dua dalam satu kali pembelian, tidak boleh lebih, Agar yang lain juga dapat,” imbuhnya.
Menurutnya, hasil pengamatan terkait dengan kelangkaan migor yang sering dikeluhkan masyarakat dalam beberapa bulan terakhir ini. timbul dari ketidak lancaran pabrik. Sehingga merembet kepada beberapa toko yang sering kehabisan stok.
“Sekarang memang tidak lancar, entah apa yang menjadi penyebabnya kami juga belum paham,” imbuh Ruben.
Selain itu, untuk menyikapi keluhan masyarakat, salah satu distributor merencanakan akan menjual kemasan migor, dengan harga yang lebih murah lagi.
“Itu masih dalam perencanaan dan akan disampaikan kepada bupati. kalau jadi, harganya bisa sekitar Rp 12 ribu. Tetapi, tidak sampai satu liter, paling hanya 900 mililiter,” pungkas Ruben.












