Berkat keilmuan yang dimiliki saat ini, Danda mampu mengedukasi dan menumbuhkan kesadaran petani di daerah asalnya, Palembang. Orang tuanya dan warga setempat yang dulu hanyalah petani karet, kini sudah memulai membudidayakan porang di lahan pertanian.
Terpisah, salah satu tokoh di desa bodag, Kecamatan Kare Kabupaten Madiun menjelaskan keistimewaan katak saat ini. Adalah Dangkung, Kepala Desa yang juga membudidayakan porang sejak tahun 2000-an lalu.
“Panen katak itu gak boleh dipaksa, biarkan dia lepas sendiri pada saat pohonnya ripah/dorman (waktu istirahatnya porang). Nanti setelah masa dorman 6 bulan, katak itu bisa ditanam lagi,” jelasnya.
Menurut Dangkung, jika katak porang dipetik paksa, tidak bisa dijadikan bibit. Hal tersebut dipengaruhi faktor usia, yang rontok atau lepas sendiri dari pohon, maka itulah yang tua.
Diketahui, satu tanaman porang mampu menghasilkan ± 13 butir katak. Di tengah-tengah adalah katak paling besar, diikuti ketiga cabangnya. Masing-masing cabang akan muncul 4-5 butir katak. Berukuran variasi, semakin ke ujung, semakin kecil kataknya.
Meskipun harga katak saat ini relatif mahal, keberadaannya masih menjadi primadona bagi kalangan petani. Bahkan pemasaran bibit tersebut sudah masuk ke marketplace ternama di Indonesia. Dengan demikian, transaksi jual beli komoditi tersebut akan lebih mudah dan aman.
Wartawan: Anwar Wahyudi











