“Alhamdulillah dengan adanya komunitas ini kami bisa memberikan pendidikan karakter para pesilat muda Tjimande, untuk tawadhu kepada kedua orang tua, dan memberi manfaat kepada masyarakat sekitar,” ujarnya.
Proses rekrutmen anak didik pesilat Tjimande memang sangat ketat dan tidak sembarangan. Basic rekrutmen adalah mental dan karakter.
Dengan begitu kualitas pesilat Tjimande tak diragukan lagi. Ditambah kegiatan bersifat sosial langsung ke masyarakat ini dapat mempererat silaturahim dengan sesama.
Ditanya sudah berapa lama kiprahnya kepada masyarakat dhuafa? Kata Aliem, berawal dari keprihatinan melihat nasib warga di sekitar padepokan yang miskin, dia tergerak membantu.
“Sudah berjalan dua tahun ini kegiatan bakti sosial bagi sembako ini,” ujarnya.
Sementara, perguruan Tjimande baru sepakat didirikan muncul ke publik pada 2011. Untuk penggemblengan mental solidaritas, peduli sesama ini dilakukan terus, sepekan sekali lima sasaran.
Terkini, ada lima dusun disasar Rabu (1/12/2021) kemarin. Para pesilat bertenaga dalam ini, mendatangi 5 rumah dhuafa. Salah satunya, Siti Aisa (67) warga Dusun Krajan A, Desa Bangsalsari dan Siti Lutfia Dusun Krajan A Desa Bangsalsari, yang kondisinya memprihatinkan.
“Kita hanya ingin menjaga komitmen kebaikan peduli dhuafa ini, di diri pribadi dan mematri peduli sesama di jiwa pesilat Tjimande, anggota Setia Kawan Bangsalsari,” pungkas Aliem.
Dia berharap perguruan Tjimande Setia Kawan akan terus berkembang dan menularkan virus peduli sesama, menolong dhuafa, membantu yang membutuhkan.(kim)











