“Pembeli sudah banyak mendengar info seperti toko swalayan menjual harga di Rp 14 ribu,” sebutnya.
Pedagang meminta agar pemerintah memberikan waktu untuk untuk menghabiskan stok minyak goreng yang masih tidak laku karena perubahan satu harga. “Kami berharap ada penstabilan harga minyak. Kalau disamakan harga, para pedagang harus diberi subsidi,” ujarnya.
Sementara itu , Kabid Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskopumdag) Banyuwangi, Suminten, membenarkan jika harga minyak goreng di pasar tradisional masih ada yang menjual di atas Rp 14 ribu.
“Itu karena ada pedagang yang membeli sebelum diterapkan kebijakan satu harga minyak goreng,” kata Suminten.
Suminten menyebut, keluhan pedagang pasar tradisional terlanjur membeli harga diatas Rp 14 ribu, tidak hanya dirasakan di Banyuwangi. Hal ini juga terjadi di kabupaten lainnya.
Untuk mengakomodir keluhan pedagang, lanjut Suminten, Disperindag Provinsi Jawa Timur telah meminta dinas yang ada di kabupaten/kota untuk mendata IKM (industri kecil menengah) yang akan melakukan prevaksi minyak goreng. //
“Nantinya juga akan ada sosialisasi dari Menteri Perdagangan, artinya baik di ritel dan pasar tradisional harganya sama Rp 14 ribu. Kalau di toko ritel sudah satu harga Rp 14 ribu. Pasar tradisional Kamis depan sudah harus menurun Rp 14 ribu,” tutupnya.
Sebelumnya pada Senin (24/1/2022) kemarin, Diskopumdag Banyuwangi telah melangsungkan pasar minyak goreng murah di sejumlah titik. Hal itu dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok dan menjaga stabilitas harga minyak di pasaran.









