Kemudian, ritual dilanjutkan dengan pengambilan pusaka yang disimpan di Balai Tajug. Pusaka tersebut ada beberapa macam, dan disimpan di kain putih. Pusaka yang dibersihkan untuk Resik Kagungan, antara lain: Keris Kagungan, sangku, layang, sirip ikan agung, endog kebo, Krikil Suwargo, Krikil Madinah, tepung gelang, dan greto.
Keris Kagungan dibersihkan dengan memakai jeruk nipis, bubuk katul dan serutan bambu dan dilakukan dalam tiga kali putaran. Saat membersihkan Keris Kagungan, sang juru kunci akan menjelaskan tanda yang terdapat pada keris kagungan tersebut. Konon, jika keris tersebut dibuka dari pembungkusnya dan didapati karat di bagian tertentu, maka menurut juru kunci akan terjadi hal besar.
Apabila noda karat pada tahun lalu terletak pada keris bagian atas, menandakan bahwa tahun ini akan terjadi hal buruk di pemerintahan. Sedangkan jika karatnya berada di pangkal keris dan nodanya tidak sebanyak tahun lalu, menandakan bahwa tahun ini lebih cerah atau lebih baik daripada tahun lalu.
Acara dilanjutkan dengan membersihkan pusaka lainnya menggunakan air. Masing-masing pusaka, yaitu sangku, layang, sirip ikan agung, endog kebo, Krikil Suwargo, Krikil Madinah, dan tepung gelang dimasukkan ke dalam dua baskom yang berisi air. Seseorang ditugasi untuk mencatat berapa banyak gelembung yang keluar ketika pusaka-pusaka tersebut dimasukkan ke dalam baskom.
Setelah seluruh pusaka dibersihkan, seorang dalang menyampaikan kesimpulan dan petuah bagi masyarakat setelah ritual Resik Kagungan. Petuah yang disampaikan berdasarkan jumlah gelembung yang timbul dan hasil pembacaan filosofi dari layang.
Masyarakat Cungking dan sekitarnya memilki kepercayaan apabila air yang digunakan untuk ritual membersihkan pusaka dapat membuat awet muda, mendatangkan rezeki, dan kesehatan. Masyarakat berbondong-bondong berebut air tersebut dengan membawa botol masing-masing untuk dibawa pulang.//









