“Kalau pada anak usia 3-5 tahun mungkin bahasanya tidak sejujur kita bicara pada anak SD. Kalau anak SD sudah belajar biologi sehingga kita bisa menjelaskan lebih detail,” katanya usai memberikan materi.
Menurut alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) ini, untuk pencegahan dan perawatan organ kewanitaan harus dilakukan sejak usia 3 tahun. Hal ini harus disampaikan pada anak-anak bahwa organ kemaluannya adalah sesuatu yang harus dilindungi, dijaga, dan tidak boleh semua orang tahu.
Anak-anak juga harus memahami bagaimana cara membersihkan organ vitalnya. “Mereka harus memahami saat mereka kencing harus dibersihkan dengan air. Pembersihan harus dilakukan dari depan ke belakang, bukan dari belakang ke depan. Karena itu akan meningkatkan risiko kuman dari anus untuk naik ke saluran kencing,” katanya.
Dokter yang bertugas di RS Yasmin Banyuwangi ini menambahkan untuk pencegahan penyakit pada organ reproduksi, usia yang paling ideal untuk anak diberi edukasi adalah mulai kelas III SD karena pada usia ini mereka sudah paham.
“Karena untuk mempersiapkan mereka menstruasi. Biasanya umur 8 tahun atau kelas IV SD sudah mulai menstruasi,” katanya.
Ia juga menjelaskan bagaimana cara mengganti pembalut dan berapa kali harus diganti saat sedang haid. Misalnya, sehari minimal tiga kali dan hal tersebut tergantung pada pendarahan dan aktivitasnya juga.
“Hal-hal simpel seperti itu sih sebenarnya. Ganti celana dalam seperti apa, perawatan celana dalam seperti apa, harus dijemur, harus diletakkan yang tidak lembab, yang kering,” ujar Dokter yang akrab disapa Puput ini.
Para siswa juga dibekali pengetahuan tentang kanker serviks dan kanker payudara serta cara pencegahannya. Sebab, jika mereka menikah pada usia muda, maka akan lebih mudah terserang kanker serviks. “Tapi sekarang pencegahannya ada vaksin,” ujarnya.
Ia mengatakan usia yang paling rentan terserang kanker serviks rata-rata usia 40 tahun ke atas. Namun, banyak kasus juga ditemukan perempuan berusia 27-28 tahun terkena kanker serviks karena mereka menikah di usia yang sangat muda. “Jadi banyak dari pelosok (desa), menikahnya masih muda, beberapa tahun kemudian ditemukan menderita kanker serviks,” pungkasnya.//










