Banyuwangi, seblang.com – Sejumlah warga Desa Sumbersari, Kecamatan Srono, melaporkan Pemerintah Desa (Pemdes) setempat ke Polresta Banyuwangi, Jumat (10/12/2021).
Mereka mengadu, lantaran pengurusan sertifikat yang dijanjikan pihak pemdes dari Tahun 2016 hingga saat ini tak kunjung terealisasi.
Dari sekian warga yang diikut sertakan dalam program tersebut, Setyo warga Desa Sumbersari mengaku telah membayar sejumlah dana dari kisaran Rp. 1.700,000,00, hingga Rp. 2.000.000,00 bahkan lebih, untuk proses sertifikat massal yang diduga mengatas namakan program Prona oleh pemdes setempat yang diduga juga dalam prosesnya tak sesuai prosedur.
Setyo mengaku jika dirinya ditawari Pemdes Sumbersari melalui kepala dusunnya yang saat itu memberitahukan ada pemutihan surat tanah. Dari tawaran itu kemudian bersedia dan membayar adminstrasi pengurusannya. Namun, setelah sekian lama dinanti sertifikat yang dijanjikan pemdes tak kunjung jadi malah dia hanya mendapatkan surat PPATS dari desa setempat.
Karena surat itu, kemudian dia mencoba untuk menanyakan kejelasan surat itu malah warga renta ini disuruh bayar sekitar Rp. 5 juta jika ingin surat tersebut dijadikan sertifikat. Karena jawaban itu, hingga saat ini dia tak mengurus kelanjutannya lantaran tak punya dana. Menurutnya, warga lain juga banyak yang diikutkan dalam program tersebut, akan tetapi senasib dengannya. Apa yang telah dijanjikan pihak desa hingga saat ini juga tidak kunjung ada kabar beritanya.
“Waktu itu bayar Rp. 1.700.000.00 kata Pak Kasun sudah jadi sertifikat. Setelah saya tanyakan, malah suruh bayar lagi. Banyak, bukan hanya saya saja. Karena hal itu saya mewakili masyarakat untuk melaporkan ketidak jelasan ini ke polisi,” ungkapnya.
Joko Supriyo tokoh masyarakat Desa Sumbersari yang ikut dalam proses pengaduan, mengaku sering kali mendapat keluh kesah dari warga terkait surat tanah tersebut. Pihaknya menjelaskan yang dimaksud pemutihan sertifikat warga diduga Program Prona. Karena dari sosialisasi yang dilakukan pihak desa merata di seluruh Dusun yang ada di Desa Sumbersari.
Bahkan di Dusun Pekiringan Desa Sumbersari warga dikumpulkan di suatu Madrasah Ibtidaiyah dusun setempat yang dihadiri kepala dusun dan kepala desa. Hasilnya sampai saat ini sejumlah warga Pekiringan juga senasib dengan Setyo.
“Saya menduga itu program Prona. Karena saat itu belum ada PTSL,” jelas Joko.










