“Saat kami mengajukan permohonan dana mereka menjawab ya, kontingen berangkat lebih dahulu. Ternyata setelah sampai di sana kurang tahu apakah karena kita mengajukannya terlambat atau bagaimana untuk kontingen Banyuwangi dibantu Rp 1,5 juta,” jelas Peni.
Dia menambahkan selama ini atlet penyandang disabilitas berjuang sendiri dalam upaya menjaga nama baik dan kehormatan nama Banyuwangi agar tidak dipermalukan dalam Peparprov Jatim.
Selanjutnya Peni menuturkan dalam Pekan Paralimpiade Nasional atau Pekan Paralimpik Indonesia (Peparnas) suatu ajang kompetisi yang menyerupai Pekan Olahraga Nasional (PON) bagi atlet penyandang disabilitas Indonesia di Papua mendatang ada satu atlet bulutangkis yang tampil dalam even tersebut.
“Sebagai pengurus NPCI Banyuwangi kami sebenarnya malu karena hanya mampu membantu Rp 200 ribu mengikuti Puslatda Jatim, padahal dia sudah berjuang membela Banyuwangi,” jelasnya. //











