“Unsur budaya Osing yang bisa dimasukkan dalam bangunan dapat beraneka ragam, bisa ornamen, bentuk, jenis material bahkan filosofinya,” terang Danang.

Layaknya sebuah klinik, kata Danang, masyarakat atau pemilik bangunan dapat berkonsultasi dan berkomunikasi dua arah berdiskusi dalam bidang arsitektur dengan staf Dinas PU CKPP. Saran dan masukan akan diperoleh oleh pemilik bangunan untuk diaplikasikan ke dalam desain.
“Tujuan layanan ini dilakukan agar setiap gedung di Banyuwangi mempunyai konsep dan filosofi, mempunyai makna sehingga nantinya bangunan itu dapat bercerita. Dan setiap orang yang datang ke Banyuwangi bisa merasakan suasana khas Banyuwangi,” ujar Danang.
Efek yang diharapkan, tentunya adalah peningkatan kunjungan wisatawan di Kabupaten Banyuwangi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Banyuwangi melalui wisata arsitektur.
Siapakah yang dapat menerima pelayanan Klinik Arsitektur? Danang mengatakan, semua masyarakat Banyuwangi dapat mendapatkan pelayanan ini, baik bangunan pemerintah maupun bangunan milik perorangan.
“Namun untuk saat ini Klinik Arsitektur baru dilaksanakan untuk desain bangunan pemerintah dan bangunan fungsi khusus dengan kompleksitas tinggi seperti hotel dan resto. Dengan mengajukan permohonan ke Dinas PU CKPP,” pungkas Danang. //











