Dalam dunia permainan teplek, dari luar kelihatan guyub rukun. Ketawa-ketiwi. Tapi arus besar di dalam pikiran adalah bagaimana mengoptimalkan kekuatan, termasuk tipu muslihat untuk menang. Bagaimana memiting tapi lawan (kawan) merasa dirangkul. Bagimana lawan (kawan) mati tapi ketawa.
Di sini pujian bisa berarti racun memabukkan. Di sini selimut bisa berubah jadi tirai penikaman. Di sini jarak antara kawanan dan musuhan menjadi nisbi.
Saya menduga, hal itulah yang mendasari Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid pagi-pagi sudah warning bahwa membangun KB itu tidak mudah ketika sudah menyangkut capres dan cawapres. Fawaid punya panggraita atau feeling (mungkin juga berpengalaman).
Demikian pula PDIP dengan malangkerik berteriak lantang. Mau bergabung kalau capresnya dari PDIP. Walhasil bisa ditebak, PDIP pasti tidak akan mau bergabung jika hanya untuk mengusung calon di luarnya. Meskipun capres itu di-endorse Jokowi.
La kok nyimut kalau PDIP cuma mau dijadikan alat capres partai lain. Tanpa koalisi pun PDIP sudah bisa nyapres sendiri.
Dalam perkumpulan teplek banyak orang itu secara kosmik mesti ada yang kalah, ada yang menang dan ada pula yang impas. Tidak ada kok harus menang semua. Kalau mau menang semua, untuk nomboki apa duit gambar bagong.
Perkumpulan teplek itu biasanya berakhir kalau waktunya habis, atau ada obrakan polisi. Bisa juga bubar sendiri di tengah mainan karena pesertanya saling jotos-jotosan.
Bisa juga KB ini bubar di tengah mainan. Bisa juga berubah jadi perkumpulan selametan jika tiba-tiba ada (investor) yang memberi tumpeng dengan upo rampe (lauk-pauk) mak nyus. Mereka akan tinggalkan teplek dengan ganti ngeroyok tumpeng sebanyak-banyaknya bahkan mberkat seabrek-abreknya.
Astagfirullah, rabbi a’lam.
Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo no HP 085645750003









