Politik Teplek Koalisi Besar

by -2066 Views
Wartawan: ano
Editor: Herry W. Sulaksono


Oleh Anwar Hudijono

SUMPAH, saya sebenarnya ingin puasa menulis politik. Tapi kali ini terpaksa mokel karena melihat fenomena KB atau Koalisi Besar – mungkin juga Koalisi Bingung. Saya benar-benar tidak kuat ngempet lagi seperti sedang kebelet, kok pas pintu toilet terbuka.


Bermula dari kumpulnya lima partai. Golkar, Gerindra, PKB, PPP dan PAN. Mereka sepakat akan membuat KB. Sederet alasan diracik rancak. Yang penting publik yakin. Bisa ngiming-ngiming partai lain untuk gabung.

Taktik ini jitu. Buktinya PSI langsung kepincut mau gabung. Memang terkesan ngrai gedek (tidak punya malu), tidak ditawari tapi langsung nyelonong. Seperti kere nemu malem, langsung mau ikut makan.

Dalam khazanah masyarakat kita, koalisi itu mirip-miriplah dengan slametan. Berkumpul baik-baik untuk bagi-bagi tumpeng. Semua peserta diperlakukan secara adil. Kalau satu duduk di karpet yang lain tidak boleh didudukkan di terpal. Apalagi terpal yang barusan dipakai menjemur gabah karena bisa gatal-gatal.

Semua mengikuti aturan main. Kapan diujubkan (dibacakan doa), kapan tumpeng diporak (dibagi). Pembagian diatur sebegitu rupa yang penting semua peserta senang dan kenyang. Tidak ada yang nggerundel.

Nah, hal ini tidak bisa jadi analog KB. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para partai itu, KB itu bisa dianalogkan dengan perkumpulan main teplek. Mereka berkumpul. Kelihatannya fine-fine saja. Senyum-senyum dulu. Duduk dengan tenang. Tapi semua menyimpan niat untuk menang. Untuk mendapat sebanyak-banyaknya dengan tombokan kekecil-kecilnya.

Mau diramesi seperti apapun, tujuan akhir koalisi untuk Pilpres itu mesti menentukan figur calon presiden dan calon wakil presiden. Sementara di KB  ada  tiga partai yang sudah punya capres sendiri. Golkar punya Airlangga Hartarto. Garindra Prabowo. PKB Muhaimin Iskandar. Mereka ketua umum partai masing-masing.

PAN dan PPP tidak mencalonkan ketua umumnya. Keduanya mengingsapi eh .. menginsyafi  kalau keberadaannya itu seperti ketimun bungkuk. Dijual sendiri tidak laku, tapi setidaknya ya bisa untuk bonus pembeli terong. Kalau untuk bonus beli celana pasti ditolak. Masalahnya, apa kaitan ketimun dengan celana.

Dalam KB ini PAN dan PPP itu seperti orang nggandol kereta api. Yang penting katut. Tidak apa-apa meski harus duduk di antara dua gerbang kereta. Syukur-syukur nanti kondekturnya kasihan lantas dipersilakan klesetan di dalam gerbang. Syukur-syukur ada yang kasihan lagi kemudian memberi minum atau pisang godok. Hal itu bukan mustahil. Mereka sangat hebat dalam dramartugi “kasihan”.

Untuk menang

iklan warung gazebo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *