Oleh : Ketua Gelora Banyuwangi. Sugiarto.SE.
Wacana universal basic income (UBI) menarik untuk didiskusikan sekaligus didorong untuk direalisasikan. Pendekatan ini dimungkinkan untuk akselerasi program mengentas kemiskinan.
Sudah banyak studi tentang itu, sudah barang tentu setiap program ada plus minusnya tetapi masih banyak plusnya.
Dipikir enteng-enteng saja jika urusan dasar, urusan “perut” selesai maka orang akan lebih produktif.
Terlebih jika kita lihat sejarah masa lalu kenapa leluhur kita mampu berkreasi, menciptakan aneka budaya bahkan mampu melahirkan filsafat-filsafat yang bernilai tinggi, karena tidak terlepas dari kemakmuran pada saat itu. Ketika tingkat kesejahteraan terjamin maka manusia mampu mengembangkan sisi seni dan budaya lebih baik.
Bagaimana mungkin orang mau berfilsafat, menciptakan tarian dengan estetika yang sangat tinggi, memahat patung yang indah, menciptakan nada musik tradisional yang enak didengar jika urusan “perut”nya belum selesai.
Belum lagi jika disandingkan dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat, penerapan 4.0 yang dilanjutkan 5.0 tentu era robotic segera hadir juga di Indonesia, dengan demikian mengancam turunnya kesempatan kerja dan meningkatnya pengangguran. Tentu ini masalah bagi kaum muda, milenial dan generasi Z, yang harus dituntut kreatifitas yang tinggi tidak hanya berorientasi mencari bekerja tapi menciptakan lapangan kerja sendiri.
Mari kita dorong pemerintah untuk merealisasikan UBI untuk masyarakat lebih baik, lebih dari itu penerapan UBI merupakan manifestasi dan pengejawantahan konstitusi dasar kita UUD 1945.









