Padahal usia itu tidak bisa dipakai pedoman melihat kematian. Termasuk jika pembaca tulisan ini lebih muda dari saya, bisa saja lebih dulu meninggal dari saya. Yang usianya di atas saya bisa jadi memang duluan sedang saya belakangan. Monggo, sebagai yang lebih muda saya ngalah saja.
Menjadi perbincangan tentang kondisi jazad Raisi. Yang perlu dimafhumi bagaimanapun penyebab kematian entah terbakar, kecelakaan atau di tempat tidur, dan apapun kondisi jazad, sebenarnya proses kematian itu hanya ada dua.
Pertama, jika yang mati orang baik akan disambut oleh malaikat dengan memakai baju putih. Wajah mereka ceria berseri-seri. Mereka membawa wewangian dan kain kafan dari surga. Malaikat maut saat mencabut nyawa melakukannya dengan penuh kasih sayang dan bijaksana.
Kedua, jika yang mati orang jahat akan disambut oleh malaikat yang kasar, wajahnya sangar, membawa kain kafan buruk dari neraka. Malaikat maut mencabut nyawanya dengan kasar dan sadis sambil memukul dada yang mati. Bau yang mati sangat anyir dan memuakkan. Sehingga tatkala dibawa ke langit tidak ada yang mau membukakan pintu.
Setiap peristiwa kematian adalah nasehat bagi para yang masih hidup. Bahwa setiap manusia pasti mati alias kita ini sebenarnya calon jenazah. Cuma tidak tahu kapan, di mana dan caranya mati. “Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (Quran, surah Lukman 34).
Dan yang lebih utama adalah mawas diri seberapa bekal yang kita miliki utuk perjalanan hidup setelah mati?***












