Langkah strategi berikutnya adalah memberi opsi kepada murid-murid Yesus. Meninggalkan ajaran Yesus atau mati. Banyak di antara murid Yesus yang menjawab opsi itu dengan kalimat, “hidup mulia atau mati sebagai martyr (syahid)”.
Akibatnya bagi murid-murid memegang ajaran Yesus itu seperti menggenggam bara api. Dilepas berarti rugi dunia akherat, dipegang sangat berat dan menyakitkan.
Dalam tekanan Yesus-fobia yang sangat berat dari penguasa dan oligarki Yahudi, sampai ada juga murid yang akhirnya berkhianat. Misalnya Ananias. Dia termasuk 70 murid Yesus. Dia mendapat kedudukan sebagai pejabat hukum. Dia yang pertama kali mengakui Paulus sebagai rasul.
Dia membawa Paulus ke lingkaran murid utama Yesus karena Paulus sendiri bukan murid maupun pernah sekadar ketemu Yesus, sementara murid-murid Yesus yang lain mencurigai Paulus adalah agen spionase Romawi.
Ananias akhirnya mati dibunuh kaum Zealot, aktivis pejuang revolusioner kemerdekaan Bani Israel karena dia ini ketahuan sebagai komprador, menjual rakyat Yahudi kepada penjajah Romawi.
Menelan matahari
Setelah murid-murid utama Yesus seperti Johanes, Petrus, Yakobus, Stevanus dibunuh secara sadis dan mengerikan, Romawi terus melakukan operasi penghancuran ajaran Yesus.
Strateginya, lestarikan merek dan wadahnya tetapi ganti isinya. Prosesnya seperti malam menelan matahari. Dari terang benderang kemudian meredup, temaram, lembayung dan akhirnya gelap gulita sama sekali. Dalam Al Quran gelap gulita ini disebut: ghosikin idza waqab.
Di dalam gelap itu segala sesuatu tidak tampak jelas. Sehingga sulit dibedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Gelap adalah tempat menyimpan rahasia yang paling efektif. Gelap adalah tempat yang paling disukai serigala (simbol penindas, teror) dan rubah (simbol sihir) beroperasi. Gelap adalah kondisi paling disenangi pelaku kejahatan. Kegelapan hati adalah tempat berbiaknya iri dengki.
Gerakan global Islamfobia saat ini boleh dibilang mengulang sejarah para Hawariyun. Islam dan umat Islam berada dalam posisi yang sangat sulit. Dibuat takut, minder, kecut, keder dan tersipu-sipu. Kaum muslimin memegang Islam saat ini seperti menggenggam bara api.
Jangankan di negara sekuler seperti Eropa, Amerika, Kanada, bahkan di negara yang mayoritas penduduknya muslim pun terkadang sangat berat. Islam menjadi tersangka di negaranya sendiri.
Caci maki, olok-olok, sumpah serapah terhadap Islam seolah banjir yang tidak ada jeda. Selalu saja ada istilah untuk menghardik Islam. Mulai terorisme, radikalisme, eksklusifisme, kadrun. Pokoknya apapun istilah kalau sudah dikaitkan Islam menjadi negatif.
Misalnya, identitas itu milik semua kelompok, komunitas, organisasi. Tapi begitu identitas dikaitkan Islam lantas nilai pesannya jadi negatif. Sampai urusan orang shalat Jumat pun disebut manggung.
Siapa dalang semua ini?
Allah sudah menunjukkan hal itu di Quran surah Al Maidah 82.
“Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Quran, Al Maidah 82)
Yahudi yang mana? Tentu saja Yahudi kafir karena Quran sendiri menjelaskan adanya Yahudi mukmin.
Lantas orang musyrik ini siapa? Intinya sama dengan musyrik zaman Romawi yang menyembah sesembahan selain Allah, menganggap ada tuhan lain di samping Allah, yang menganggap Tuhan berinkarnasi sebagai manusia, Tuhan punya anak.
Gerakan global Islamfobia dengan segala variannya, akhirnya menjadi seleksi: “Siapakah yang akan menjadi penolong untuk (menegakkan agama) Allah?”
Apakah kita akan seperti para Hawariyun yang menjawab, “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim.”
Ataukah kita akan memilih menjadi Yudas Eskariot dan Ananias yang menjadi pengkhianat demi harta dan jabatan yang kemudian bersekutu dengan Yahudi kafir dan Romawi. Yang kalau dalam Quran, manusia demikian sudah ditunjukkan oleh Allah di surah Al Maidah 52).
“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya.”
Rabbi a’lam
Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo no hp 085645750003.









