Oleh: Anwar Hudijono
Salah satu amalan utama yang dicontohkan Rasulullah pada bulan Ramadan adalah itikaf atau berdiam diri di dalam masjid terkhusus pada 10 hari terakhir Ramadan. Saya kira umat Islam sudah sangat mafhum tentang hal ini.
Dalam itikaf itu ada proses belajar diam. Maka dipilihlah masjid sebagai tempatnya. Lingkungan masjid penuh dengan nilai spiritualisme. Di jaman now, belajar diam itu sangat penting. Sebab ranah publik sudah penuh dengan polutan informasi berupa fitnah, hoaks, prank, ujub, kesombongan, kebodohan.
Semakin banyak aktif dalam pergulatan informasi di ranah publik ibaratnya semakin banyak menghirup polutan daripada oksigen. Paru-paru yang terlalu banyak mengonsumsi polutan, residu lama-lama kotor dan jebol juga.
Saat ini trends banjir informasi menggiring manusia menjadi penonton, bukan pemikir. Sampai-sampai kadang ironis. Itikaf di masjid itu kan disuruh berdzikir dan berpikir. Tapi yang tejadi itikaf justru diisi tiktokan. Cari internet gratis. Untuk buat nyetatus. Di antara shalat tarawih bukan baca Allahumma innaka afuwum karim, tapi chek whatsap. Ajuur.. ajuur.
Diam yang diniatkan itikaf itu bukan sembarang diam. Tapi diam yang penuh makna. Diam tapi sebenarnya ada pergerakan sangat cepat. Pergerakan transformatif revolusioner dengan memanfaatkan momentum yang singkat untuk menjadi manusia ulul albab.
Siapa ulul albab? Sebagaimana disebutkan di Quran surah Ali Imrah 190-191.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi ulul albab (orang yang berakal),
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”











