Amerika Kewalahan Lawan “Tentara Tinja”

by -13 Views
Wartawan: Anwar Hudijono
Editor: Herry W Sulaksono


Oleh: Anwar Hudijono

Tuhan memiliki bala tentara di seluruh jagat raya. “Dan milik Allah bala tentara langit dan bumi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qur’an 48:7).

Tentara-Nya bermacam-macam. Ada yang ringan sampai yang berat. Ibaratnya ada yang bersenjatakan ketapel hingga bom nuklir. Kelasnya pun berbeda-beda, tergantung urusannya. Ada yang ibaratnya sekelas Satpol PP, ada pula yang sekelas pasukan komando khusus.

Yang ringan misalnya berwujud kodok, belalang, kutu, topan, dan darah yang ditimpakan kepada Firaun. Karena Firaun tetap membangkang dan tidak menggubris “tentara ringan” itu, akhirnya Allah mengirim tentara kelas berat berupa gelombang dahsyat yang menenggelamkan Firaun beserta bala tentaranya.

Tentara kelas berat lainnya berupa badai dingin yang dikirim untuk membinasakan kaum ‘Ad. Ada pula banjir besar yang menelan hampir seluruh umat Nabi Nuh, serta gempa dahsyat yang menghancurkan kaum Nabi Luth.

Ada juga tentara yang tampak ringan tetapi ternyata dahsyat, yaitu burung ababil. Mungkin burungnya biasa saja seperti burung emprit kaji atau jalak uren. Namun senjata yang dibawa adalah kerikil panas yang menghancurkan pasukan Raja Abrahah hingga binasa seperti daun dimakan ulat.

Saya menduga, Tuhan juga mengirim “tentara” berupa tinja untuk memperingatkan tentara Amerika.

Tentara tinja? Ya, tinja. Bukan ninja, pembunuh bayaran dari Jepang. Dalam bahasa Jawa tinja disebut tai. Arek Surabaya menyebutnya taek, sementara arek Malang menyebutnya keat.

Kok bisa?

Ceritanya begini. Kapal induk bertenaga nuklir USS Gerald Ford memiliki sekitar 600 toilet untuk sekitar 4.500 awak dan penumpangnya. Kapal ini sangat mahal, dengan harga sekitar Rp200 triliun. Kapal ini serba “ter”: tercanggih, terbaik, terkuat, dan termodern.

Namun ketika hendak dipersiapkan untuk operasi militer melawan Iran, muncul masalah besar. Sebagian besar toiletnya rusak dan banyak yang mampet. Tinja tidak bisa tersiram air. Entah karena sistem pembuangannya bermasalah atau faktor lain.

Akibatnya, antrean panjang terjadi di depan toilet, seperti barisan semut hendak masuk sarang. Tentu saja bukan antrean yang penuh kegembiraan seperti antrean pembagian THR. Suasananya campur aduk: ada yang meringis menahan, ada yang mondar-mandir gelisah, ada pula yang berteriak meminta yang di dalam agar segera menyelesaikan “urusannya”.

Seseorang bisa mengantre hingga satu jam. Celakalah mereka yang sudah tidak kuat menahan. Mau tidak mau ada yang “kecolongan” di celana, atau terpaksa buang air di tempat lain yang penting rasa tertekan itu terlepas.

Apakah tragedi tinja berhenti sampai di situ?

Tidak.

Bau tinja menyebar ke seluruh kapal. Kapal semewah apa pun, jika dipenuhi bau tinja—apalagi yang mencret—pasti tidak nyaman. Mau makan bau tinja, tidur juga bau tinja.

Masalah ini menambah tingkat burnout, yakni kelelahan fisik, mental, dan emosional di kalangan tentara Amerika.

Burnout itu juga dipicu oleh perpanjangan masa tugas secara mendadak. Harapan untuk pulang bertemu anak, istri, dan keluarga pun sirna.

Mereka hidup dalam kecemasan. Saat bertugas di Laut Karibia, ancamannya hanya jaringan narkoba. Namun di kawasan Teluk Persia, yang dihadapi adalah Iran dengan rudal balistik dan drone bawah laut yang sewaktu-waktu bisa mengancam kapal.

Dalam kondisi tertekan seperti itu, mereka bahkan masih dijadikan kambing hitam atas insiden kebakaran di kapal. Padahal ada dugaan kebakaran tersebut dipicu oleh serangan rudal. Namun, seperti biasa, orang kecil kerap menjadi tumbal penguasa.

Akibat masalah tinja ini, semangat tempur para tentara Amerika pun merosot. Ibarat layang-layang kehilangan rangka. Mereka hanya ingin segera pulang agar bisa duduk santai di toilet rumah sendiri sambil merokok atau bermain ponsel.

Akhirnya, USS Gerald Ford ditarik mundur untuk memperbaiki sistem toiletnya.

Tinja ini hanyalah bagian dari rangkaian “tentara Tuhan” untuk memperingatkan manusia dari kesombongan. Sebelumnya ada kebakaran besar yang melanda kota-kota, banjir bandang yang merusak wilayah, hingga badai salju yang melumpuhkan berbagai daerah.

Namun saya yakin Amerika tidak akan mudah percaya bahwa itu peringatan Tuhan. Sama seperti Firaun yang berkali-kali mendapat peringatan.

Al-Qur’an menjelaskan dalam Surah Al-A’raf ayat 133–136. Ketika ditimpa azab berupa katak, kutu, belalang, topan, dan darah, Firaun meminta Nabi Musa berdoa agar azab itu diangkat dengan janji akan beriman kepada Allah dan membiarkan Bani Israil pergi dari Mesir. Namun setelah azab diangkat, Firaun kembali ingkar.

Akhirnya Allah menjatuhkan hukuman yang lebih berat.

“Maka Kami menghukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka di laut karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan selalu melalaikannya.” (Al-A’raf: 136).

Apakah akhir Amerika dan Donald Trump akan seperti Firaun dan Mesir?

Allahu a’lam bissawab.

Anwar Hudijono
Pensiunan wartawan Kompas.

iklan warung gazebo