Arifin menambahkan faktor lain yang harus diupayakan oleh pihak desa adalah menjalin kerjasama dengan akademisi untuk menggali potensi desa dan dikembangkan. Agar masyarakat desa benar-benar mampu mengopimalkan potensi yang ada sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan mereka.
“Selama program yang sudah dilaksanakan adalah kerjasama dengan perguruan tinggi bagi program mahasiswa untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang waktunya relatif singkat. Sehingga manfaatnya kurang optimal bagi masyarakat desa,” jelas ayah dua anak tersebut.
Kemudian untuk menjaga tradisi dan budaya mocoan, dengan adanya Lembaga Adat Osing mampu menjadi jembatan komunikasi antara kelompok tua dengan kaum milenial. Sehingga proses tranformasi budaya tersebut bisa terjadi secara alami. Warga masyarakat mampu menjaga memelihara dan melestarikan warisan budaya mocoan di Desa Kemiren.
Seperti telah diberitakan sebelumnya selangkah lagi Ijen Geopark menuju predikat UNESCO Global Geopark (UGG) telah mendapat kepercayaan mewakili Indonesia untuk menjadi calon anggota baru UGG. Setelah melakukan serangkaian kegiatan presentasi dan tanya jawab progres Ijen Geopark dalam Virtual Advisory Mission (VAM) beberapa waktu lalu.
Kegiatan VAM yang digelar Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN BAPPENAS) RI tersebut ditutup dengan tour situs geologi, biologi dan budaya yang berada di TN. Alas Purwo, Desa Adat Osing Kemiren dan SMPN 3 Banyuwangi sebagai lembaga pendidikan yang mendukung program edukasi Ijen Geopark. //











