Bahkan untuk pemberian sembako KKI sudah sering menggelar program bantuan mulai dari terjadinya puting beliung yang mengakibatkan beberapa rumah warga yang roboh. Selanjutnya memberikan santunan sembako dan uang bagi para tukang becak. Tentunya juga diberikan bagi anak-anak yatim itu secara bergiliran, imbuh Kanti.
Bu Kanti menambahkan tidak jarang dia bersama dengan pengurus KKI yang lain secara bergantian mengisi materi tentang personality development kepribadian, beauty class termasuk fashion show yang melibatkan para siswa-siswi Dirgantara aviation yang kebetulan berada di depannya Polresta Banyuwangi.
Rangkaian festival kebaya juga diisi dengan musik etnik yang baru saja menang di tingkat Jawa Timur kolaborasi antara musik dengan suling bambu gitu digabung. Sebelumnya ada pagelaran musik apa musik tradisional karawitan dan tarian Jawa yang pemainnya adalah para ibu.
Panitia pelaksana juga tidak lupa menampilkan tari Banyuwangi sebagai pembuka juga yang memainkan atau panjaknya semua anak-anak muda kebaya Indonesia milenial.
“Pada prinsipnya kami ini tampil kepingin pertama membangkitkan perekonomian setelah adanya dampak Covid 19. Kedua kami ingin masyarakat Banyuwangi khususnya yang milenial semua mencintai kebaya busana tradisional yang merupakan warisan leluhur dan memiliki nilai filosofi yang luhur,” pungkas Bu Kanti. //











