Satu lesung harganya sekitar Rp. 25 ribu atau paling mahal Rp. 50 ribu. Barang-barang kuno yang dibeli dikumpulkan dan dititipkan di rumah teman yanga ada di Desa Kalipait Kecamatan Tegaldlimo atau tempat-tempat yang lain sampai ke daerah Macan Putih Kecamatan Kabat Banyuwangi.”Selain itu untuk mengumpulkan barang kuno butuh ketelitian kesabaran dan sabarnya harus pol,” imbuhnya.
Ke depan ayah tiga anak itu menginginkan di Banyuwangi ini teman-teman pelaku seni ini dan kolektor kolektor barang-barang kuno semakin banyak. Sehingga semakin banyak koleksi barang antik yang bisa dilihat dan dinikmati oleh pecinta barang kuno.
Ketua Papdesi Banyuwangi menuturkan koleksi barang antiknya saat ini antara lain; lentera-lentera kuno, lampu petromak, gentong, meja kursi, aneka macam lemar, barang pecah belah atau alat rumah tangga tempo dulu dan lain-lain.
“Kalau sampai habis diganti modernisasi termasuk rumah-rumah adat suku Osing terus gimana nanti para orang tua bercerita kepada generasi selanjutnya. Misalnya singkal atau bajak anak-anak mengertinya setiap hari makan beras/ makan nasi tetapi proses untuk membajak sawah jarang yang mengerti,” kata Mura’i.
Belum lagi, tambah dia, alat transportasi cikar dan dokar serta mana lampu templek dan petromak. Generasi milenial hanya mengetahui lampu LED maupun lampu-lampu modern yang serba canggih bahkan HP pun bisa dipakai sebagai center. Tetapi mereka perlu mengetahui pada jaman dahulu ini sebelum lampu listrik ada lampu petromak dan lampu-lampu kecil kayak lampu templek yang barangnya patut dipertahankan
Karena koleksi barang antik dan kuno menyangkut barang-barang bersejarah dan jumlahnya cukup banyak dia sebaiknya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) harus ikut membranding agar semakin banyak orang yang tertarik untuk mengoleksi peninggalan warisan leluhur yang bernilai tinggi tersebut. //









