Namun, karena adanya bencana gempa bumi yang meluluh lantakkan lombok pada tahun 2018 lalu, keadaan itupun memaksanya untuk pulang kampung. Sepasang suami istri asal Wadung, Kecamatan Genteng, Banyuwangi inipun melanjutkan usahanya jualan es degan di tempatnya sekarang.
Mereka juga bersyukur, dengan hasil jualan es Degan yang telah ditekuni selama belasan tahun dan kebiasaan unik yang rutin dilakukanya itu, selain dapat menyukupi kebutuhan rumah tangga, mereka juga mampu menyekolahkan anak-anaknya.
“Alhamdulillah hasil dari jualan es Degan cukuplah. Empat anak saya, juga tidak ada yang putus sekolah. Meski tiga anak saya hanya lulusan SMA, dan anak yang ke-4 masih sekolah SMP,” ungkapnya.
Kendati demikian, masa pandemi yang telah berlangsung selama satu tahun ini, omset penjual es Deganya turun tajam hingga 50 % lebih. “Apalagi diperparah musim hujan kemarin ini, sepi sekali. Ya Mudah-mudahan Covid-19 segera hilang dan normal kembali,” harapnya.
Dengan demikian, dari kebiasaan unik sepasang suami istri pedagang es Degan tersebut, sedekah bisa dilakukan siapa saja. Tanpa memandang status ekonomi seseorang, mau kaya atau miskin. Seseorang yang tidak berkecukupan pun tetap bisa bersedekah, asalkan ada niat mencari pahala dan membantu sesama.
Wartawan : Teguh Prayitno









