”Ada juga kelas workshop yang diikuti sekitar 50 peserta dari kalangan pondok pesantren, pemuka agama dan pemain baru di kopi. Sehingga tidak hanya mereka yang sudah kuat tetapi anak-anak baru muncul akan dimatangkan agar ada kemandirian ke depan,” tambahnya.
Di samping itu, lanjut Bram, pihaknya juga menggelar lomba photo yang bisa menggunakan Handphone (HP), kamera pocket maupun DSLR dengan hadiah voucher untuk menginap beberapa hotel dan makan di yang ada di Banyuwangi.
Untuk kategori lomba foto, para peserta bisa melakukan pemotretan selama pelaksanaan “Banyuwangi Coffee Week”. Sedangkan kategori yang dilombakan adalah; Human Interest, Penyajian (Barista) dan Foto Produk.
Bram menambahkan dengan menggelar “Banyuwangi Coffee Week”, pihaknya berharap kopi Banyuwangi lebih dikenal masyarakat luas. “ Kalau orang sudah jatuh cinta kopi Banyuwangi tentu dia akan membeli, kami ingin ada jembatan siapa tahu penikmat kopi mempunyai jaringan yang kuat bagaimana kopi Banyuwangi bisa keluar tidak hanya sekedar menjadi raja di Banyuwangi tetapi bisa dinikmati masyarakat luar,” imbuh Bram.
Tentunya nanti transaksi dan omset yang meningkat usaha kopi bisa naik kelas yang akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat yang menekuni usaha kopi.//









