Indah menambahkan, dirinya hanya dimintai ongkos travel dan KTP saat berhenti di kawasan Pelabuhan Ketapang tepatnya jalan tingkungan pintu keluar LCM.
“Saya tadi sempat tanya ke sopir, apa perlu turun untuk rapid test? Sopirnya jawab tidak usah,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu sopir travel berinisial F mengaku jika dirinya hanya mengikuti arahan oknum pengurus travel di Pelabuhan Ketapang. Untuk mendapatkan hasil rapid tes, dirinya hanya menyetor uang dan data penumpangnya.
“Saya tidak tahu apa – apa. Yang pegang hasil rapid tesnya pengurus travel. Saya hanya bayar uang Rp. 40 ribu dan setor KTP penumpang,” kata F kepada seblang.com.
Selanjutnya, kata F, oknum pengurus travel tersebut mengawalnya untuk validasi data para penumpang di pintu masuk pelabuhan ketapang tanpa penumpangnya diperiksa.
“Kemudian tiba-tiba ada sejumlah polisi datang dan mempermasalahkan surat rapid test yang dipegang oknum pengurus travel tersebut. Lalu polisi membawa kami disini,” ungkapnya.
Setelah dilakukan pemeriksaan berjam-jam, sopir dan para penumpang travel diperkenankan untuk melanjutkan perjalanan, sekitar pukul 13.00 WIB. Sedangkan penanggung jawab beserta pegawai klinik masih diperiksa polisi, termasuk oknum pengurus travel tersebut. //










