Banyuwangi, seblang.com – Dalam masa kampanye pemilihan bupati-wakil bupati Banyuwangi ini, terpasangnya beberapa spanduk provokatif yang di beberapa wilayah Banyuwangi. Spanduk itu mengundang keprihatinan dan dinilai sebagai pendidikan politik yang kurang baik bagi generasi muda serta berpotensi memunculkan sikap apatis masyarakat terhadap politik.
Beberapa contoh spanduk yang terpasang antara lain; di Jalan Kepiting, Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi dimana spanduk provokatif yang terpasang bertuliskan “WONG WEDOK IKU, NGGONE NANG SUMUR, DAPUR, KASUR. GAK DADI BUPATI”. Selain itu, juga terpasang spanduk dengan tulisan “BUPATI KOK WEDOK, GAK PANTES BLAS”, di beberapa tempat lain.
Menurut Ervina Wahyu Setyaningrum, Dosen Pertanian dan Perikanan Untag 1945 Banyuwangi ditemui di kampusnya Senin (9/11) menungkapkan sekarang bukan lagi Jaman Siti Nurbaya, dimasa sekarang bukan jamannya lagi perempuan hanya berfungsi sebagai teman di kasur dapur dan di sumur.
”Kami meyakini isu seperti itu justru membuka mata hati dan kecerdasan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Banyuwangi karena dalam realitas tidak sedikit pemimpin perempuan yang sukses dan berprestasi,” tegas perempuan yang akrab disapa Ervina itu.
Selanjutnya istri Rury Desrino Purnama menuturkan dalam kontestasi pilkada di Banyuwangi kali ini hanya diikuti oleh dua paslon, yakni H. Yusuf Widyatmoko – KH Muhammad Riza Azizy (Mas Yusuf-Gus Riza) paslon nomor urut satu, dan Ipuk Fiestiandani Azwar Anas – H. Sugirah (Ipuk-H Sugirah) paslon nomor urut dua. Sehingga ajakan untuk tidak memilih paslon 02 karena peremuan itu hal yang konyol, jelas merugikan paslon dan tindakan yang membodohi masyarakat.











