Webinar Nasional terkait Pemolisian Masyarakat dengan tema “Sinergi Untuk Kesejahtraan Masyarakat

by -3025 Views
Wartawan: Nurhadi
Editor: Herry W. Sulaksono
Kompol Mustakim, Kasat Binmas Polresta Banyuwangi bersama Ketua dan pengurus DPD LDII Kabupaten Banyuwangi saat mengikuti Webinar Nasional


Dia  menilai sebagai ormas LDII memiliki semangat inklusif yang bisa membangun konektivitas, menjadi jembatan katalis pertemuan orang yang beda suku, adat dan budaya . sehingga mampu terkoneksi satu sama lain dan membangun kerangka kerjasama dengan berbagai elemen sehingga dapat menjadi damai dan harmoni.

Kedua, Yudi Latif mengingatkan pentingnya kesetaraan akses terhadap pendidikan, kesehatan, keamanan, ketertiban dan kesejahteraan serta permodalan. “Seringkali robekan sosial terjadi karena eksklusivitas, dimana akses ekonomi, kesehatan dan pendidikan dikuasai oleh golongan tertentu sehingga menciptakan kecemburuan,” pungkasnya.


Menghidupkan Patron-client di Pedesaan

Sementara itu, Profesor Singgih Tri Sulistyono, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, sekaligus Ketua DPP LDII mengungkapkan wilayah dan masyarakat pedesaan masih merupakan penyangga utama kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Namun transformasi historis yang saat ini berlangsung telah mengancam salah satu pilar struktur sosial, yakni memudarnya pola hubungan patron-client. Padahal pola hubungan tersebut menjamin kehidupan yang harmoni di pedesaan.

“Hubungan patron-client adalah hubungan antara pemimpin dengan pengikut yang saling menguntungkan dimana pemimpin menjamin kemakmuran sedangkan rakyat memberikan dukungan politik dan penghormatan,” papar Prof. Singgih.

Sistem politik tersebut menjadikan desa sebagai kesatuan teritorial dan budaya yang utuh dan solid. Meski hidup dalam kondisi pas-pasan, dulunya ketahanan hidup masyarakat desa dijamin oleh pemimpinnya.

“Kegaduhan, perlawanan dan pemberontakan masyarakat desa justru terjadi ketika ada goncangan dalam pola hubungan patron-client dan terlanggarnya batas subsistensi,” jelas Singgih.

Dia menuturkan pernah ada situasi dimana masyarakat kumpul di suatu masjid melakukan zikir bersama meminta tolong langsung kepada Maha Kuasa, bukan meminta tolong kepada penguasa.

Dia berpendapat, hal tersebut menjadi salah satu indikator para pemimpin di desa itu tidak lagi menjadi tempat bergantung dan berlindungnya masyarakat, sehingga hubungan patron-client mengalami disorientasi.

“Saya kira, untuk sekarang dan yang akan datang satu-satunya yang bisa menjadi patron di masyarakat desa adalah negara. FKPM yang diinisiasi pihak Polri bisa difungsikan sebagai elemen negara karena di dalamnya terdapat aparat keamanan, pemerintahan dan tokoh-tokoh masyarakat. LDII siap bekerjasama untuk menjalankan fungsi patron-client yang bisa menjadi pembela dan pelindung masyarakat pedesaan dari berbagai macam potensi konflik sosial,”  tambah pria asal Semarang itu.

Menurutnya, LDII di berbagai daerah bisa bergabung dengan ormas lain dan kepolisian mendirikan FKPM, atau bergabung dengan FKPM yang sudah berjalan di suatu daerah. Dengan bergabung dalam FKPM, LDII dan masyarakat lainnya berperan aktif dalam memelihara Kamptibmas bersama dengan aparat  kepolisian.

Terkait pembentukan FKPM, Kakorbinmas Baharkam Polri yang diwakili Kasubditbitpolmas Korbinmas Harkam Polri Kombes Pol RS.Terr. Pratiknyo mengatakan LDII dapat membentuk FKPM model kawasan berdasarkan kesepakatan bersama antara Polri – dalam hal ini Kapolsek, petugas Polmas, atau Bhabinkamtibmas dan pemilik kawasan pendidikan.

“Keanggotaan FKPM terdiri atas keterwakilan pemilik kawasan pendidikan, keterwakilan pengelola, keterwakilan satuan pengamanan, keterwakilan pekerja, unsur pemerintah dan petugas Polmas. Mereka bisa menggunakan fasilitas pos yang disediakan oleh pemilik kawasan pendidikan sebagai tempat pertemuan,” ujar Kombes Pol RS.Terr. Pratiknyo.

Webinar Nasional sosialisi FKPM  yang digelar  LDII tersebut, diikuti oleh para pengurus LDII, Alim Ulama, Pimpinan Pondok Pesantren, Unsur Kepolisian Kewilayahan,  Pengurus DPW, dan DPD LDII kabupaten/kota di 300 lebih studio mini.

Acara itu menghadirkan pembicara Kasubditbitpolmas Korbinmas Harkam Polri Kombes Pol RS.Terr. Pratiknyo, Akademisi Universitas Paramadina Yudi Latif, Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Desa Kemendagri Chaerul Dwi Sapta dan  Profesor Singgih Tri Sulistyono, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro Semarang yang juga Ketua DPP LDII.

iklan warung gazebo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *