“Kami disuruh nyicil awal, Rp.500 ribu, setelah cagak nanti berdiri harus lunas sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah,” ungkapnya.
Lebih lanjut Rony menceritakan apa yang menjadi persoalannya mengatakan dirinya bersama warga Lempuyang butuh penerangan lampu dan ketika sudah dipasang dipermasalahkan seharusnya pihak PLN memberikan informasi kepada warga Lempuyang jika ini nanti akan bermasalah, bukan sudah dipasang baru mengatakan ini bermasalah.
“Jika ini mau jadi permasalahan seharusnya pihak PLN dari awal sudah memberitahu terlebih dahulu kepada kami, karena kami masyarakat kecil gak tahu persoalan ini, yang penting kita bisa menikmati penerangan lampu, dan kami sudah membayar dari tambahan KWH sebesar 500 ribu total dua juta, dan yang bayar sudah ada 9 orang yang lunas, dan satu orang bayar tapi belum lunas, dan total uang yang masuk sekitar Rp.18.850.000, dan keseluruhan ada 18 KK sisanya yang belum bayar disuruh nyicil, dan dari 9 orang yang sudah lunas sudah bisa menikmati listrik tersebut namun sekarang dipermasalahkan, untuk mau melunasi dari nominal sebesar itu warga ada yang ambil Bank Mekar, jual ayam, dan sebagainya karena kami butuh penerangan listrik,” katanya.
Sejauh itu Rony bersama warga Lempuyang lainnya juga sudah menghadap langsung ke Bupati Karna Suswandi untuk menceritakan apa yang sudah menjadi persoalan di dusun Lempuyang.
“Tadi malam kami menghadap Bupati Alhamdulillah disambut baik dengan beliau dan kami bertemu langsung dengan Sekretaris Daerah dan Bupati, dan sudah menceritakan apa yang menjadi keresahan kami sebagai warga Lempuyang, semoga keresahan dan permasalahan ini bisa mendapat solusi dan segera terselesaikan,” harapnya.
Sementara itu Imam Anshori Kepala Desa Sumberwaru saat dikonfirmasi lewat via WhatsAppnya mengatakan dengan singkat sudah melakukan mediasi di PLN Cabang Asembagus, “Baik bersama perwakilan warga lempuyang, Babinsa dan Babinkantibmas dan saya sendiri,” pungkasnya, Rabu, (5/6/2024). (******)









