“Ilmu yang bermanfaat tentu harus disebarkan, oleh karena itu melalui pelatihan berdakwah ini diharapkan mereka mampu untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat tersebut kepada orang lain yang berada di sekitarnya,” imbuhnya.
Untuk menjadi seorang pendakwah, para santri selain dibimbing oleh petugas Lapas juga dibimbing oleh pihak eksternal, di antaranya dari kantor Kemenag setempat dan beberapa pondok pesantren yang ada di Banyuwangi.
“Para santri juga belajar secara mandiri melalui bahan bacaan yang telah kami sediakan di perpustakaan dan saling bertukar informasi antar santri,” urainya.
Sampai saat ini, santri Pondok Pesantren At-Taubah Lapas Banyuwangi berjumlah sekitar 200 orang. Kegiatan pembinaan yang diikuti oleh para santri sangat beragam, mulai dari belajar membaca Alqur’an melalui metode yanbu’a, pelatihan qira’ah, hingga meperdalam ilmu tauhid dan fiqih.
“Kami terus mendorong agar warga binaan dapat mengikuti pembinaan berbasis pondok pesantren tersebut, karena kami menginginkan adanya perubahan perilaku kearah yang lebih baik, sehingga meskipun mereka masuk sebagai napi dapat bebas dengan menjadi santri,” pungkasnya./////









