Namun, dalam diskusi tersebut, PT. KAI merasa keberatan jika lahan miliknya seluas 2000 – 3000 meter persegi sebelah timur Stasiun Ketapang didirikan terminal Bus.
“Adanya multimoda transportasi sebenarnya itu permasalahan setiap daerah, yang menginginkan hal itu terwujud. Namun, jika ada terminal di depan stasiun, kita khawatir, stasiunnya akan hilang, tidak nampak estetikanya. Mengingat space lahannya kecil, dibandingkan dengan ukuran bus AKAP yang besar,” jelas Tohari Humas KAI Daop 9 saat memberikan saran dan masukan pada acara FGD II tersebut.
Namun, PT. KAI merespons baik dengan design RTBL menjadikan lahan KAI di kawasan koridor Jalan Gatot Subroto itu dijadikan RTH, dan adanya jembatan menghubungkan antara pelabuhan dan stasiun untuk mempermudah masyarakat beralih moda transportasi dari pelabuhan ke stasiun atau sebaliknya.
“Terkait rencana adanya jembatan, taman, tempat bermain dan parkir yang disampaikan (Tim RTBL Dinas PU Provinsi Jatim) di lahan KAI itu, kebetulan sejalan dengan rencana KAI untuk menjadikan lokasi tersebut sebagai taman dan tempat parkir kendaraan kecil,” ujarnya.
“Kalau melihat design yang disampaikan, itulah harapan kami. Karena banyak penumpang kami yang mengeluh dan terganggu akan kondisi saat ini,” pungkasnya. ////









