Ipuk mengatakan, kebanggaan generasi muda terhadap Gandrung menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan kesenian tersebut di tengah perubahan zaman.
“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami, Gandrung masih hidup di hati generasi muda. Mereka tidak sekadar mengenal, tapi juga bangga mengenakan kostum dan belajar menari Gandrung,” katanya.
Dia menambahkan, keterlibatan anak muda dalam pagelaran tersebut menunjukkan tradisi lokal tetap memiliki ruang untuk berkembang mengikuti perubahan zaman.
“Ini sekaligus menjadi bukti bahwa tradisi Banyuwangi mampu beradaptasi dan berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya,” ujarnya.
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, Gandrung Sewu 2026 akan digelar pada malam hari. Pagelaran ini mendapat dukungan dari InJourney, holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata.
Konsep baru tersebut memadukan gerakan ribuan penari dengan tata cahaya serta elemen fosfor untuk menciptakan efek visual yang berbeda. Perpaduan itu akan menjadi bagian dari pertunjukan di kawasan Pantai Marina Boom pada 24 Oktober mendatang.
Ipuk mengatakan, konsep malam hari disiapkan untuk memberikan pengalaman berbeda bagi penonton sekaligus wisatawan yang datang ke Banyuwangi.
“Ini bukan sekadar perubahan waktu pelaksanaan, tetapi kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada penonton dan wisatawan,” tambahnya. (*)












