Upaya SD Negeri 1 Mojopanggung Melestarikan Seni Tari Gandrung Marsan di Banyuwangi

by -862 Views
Wartawan: Nurhadi
Editor: Herry W. Sulaksono
Penampilan Siswa SD Negeri 1 Mojopanggung membawakan Tari Gandrung Marsan di halaman sekolah yang menghibur penonton

Tari Gandrung yang saat ini dinikmati merupakan jenis tarian yang sudah dikenal sejak mulai dibabatnya Hutan Tirtagindo atau Tirta Arum untuk lokasi ibu kota Blambangan pada masa silam. Masyarakat lokal menyebutnya Gandrung Marsan.

Kala itu hutan Tirta Arum menjadi ibu kota Blambangan, menggantikan ibu kota sebelumnya, yaitu Ulu Pangpang. Berdasarkan banyak literatur waktu pemindahan ibu kota ini diprakarsai oleh Bupati pertama Banyuwangi yaitu Mas Alit yang dinobatkan pada tanggal 2 Februari 1774. Masa inilah muncul Seni Tari Gandrung.

Hingga seiring berjalannya waktu tari ini terus berkembang. Hingga pada tahun 1890 ada sebuah kesenian yang dibawakan oleh sekelompok pria berusia 7 sampai 14 tahun. Kesenian Tari Gandrung menjadi pertunjukan yang berpindah dari satu kampung ke kampung lain.

Salah seorang penari yang terus melakoni kesenian tersebut hingga usianya mencapai 40 tahun adalah Marsan. Sosok Marsan begitu dikagumi. Sebagai penari, sebab dia dikenal sangat piawai memerankan sebagai sosok penari perempuan.

Sebab setiap pertunjukannya, dia menyelipkan pesan propaganda untuk melawan penjajah. Hasil yang didapat dari pertunjukan pun digunakan untuk membantu para pejuang pada masa itu sehingga mampu memberikan semangat untuk memerdekan Indonesia.

Saat itu Gandrung Lanang menjadi tarian jalanan yang sederhana. Alat musik digunakan juga sederhana, kendang dan rebana. Marsan menjadi tokoh Gandrung Lanang paling dikenal. Hingga Setiap kali ada pertunjukan Gandrung Lanang, masyarakat menyebutnya Gandrung Marsan.

Dariharto dalam bukunya Kesenian Gandrung Banyuwangi yang terbit tahun 2009 menyebut fungsi Gandrung Lanang pada masa kolonial tidak lain dan tidak bukan adalah sebagai salah satu strategi perang melawan penjajahan Belanda.

Menurut Dariharto saat pertunjukan berlangsung para penari menyelipkan seruan untuk melawan penjajah, yang diucapkan dalam bentuk syair lagu. Jadi dengan melihat sejarah itu dalam perkembangan seni Gandrung bukan sekadar sebuah hiburan saja.////

iklan warung gazebo

iklan warung gazebo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *