Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bupati Banyuwangi, Forkopimda, PT. Angkasa Pura 2, Forkopimcam Glagah, para Kades / Lurah serta dermawan yang peduli dalam memelihara menjaga dan melestarikan ritual adat warisan leluhur yang harus dijaga dan diuri-uri.
Sementara Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi Taufik Rohman menyampaikan permintaan maaf Bupati yang rencananya akan memberikan sambutan secara virtual. Namun karena saat ini bupati dalam perjalanan ke Jakarta untuk lanjut melaksanakan ibadah haji sehingga ada kendala teknis untuk memberikan sambutan.
Dia menuturkan Tumpeng Sewu merupakan even rutin selamatan desa yang melibatkan partispasi dan swadaya masyarakat yang nilainya mencapai Rp. 250 juta .”Sebagai bentuk penghargaan atau reward pemerintah memasukan ritual adat dalam Banyuwangi Festival (B-Fest) sebagai upaya nguri-uri dan melestarikan adat dengan harapan bisa menggerakan ekonomi rakyat karena dihadiri dan dinikmati masyarakat luar Desa Kemiren,” jelas Taufik.
Selanjutnya dia menambahkan tradisi Tumpeng Sewu bisa dijual menjadi salahsatu destinasi wisata budaya, karena tidak ada di desa, kecamatan, kabupaten / kota di Indonesia yang lain.
Tidak lupa Taufik mengucapkan terima kasih kepada panitia pelaksana, tokoh adat dan warga Desa Kemiren yang tetap teguh memelihara menjaga dan melestarikan ritual adat.
Dengan adanya ritual tetap dilestarikan menjadi potensi kekayaan yang dimiliki masyarakat untuk dipasarkan menjadi salahsatu destinasi wisata budaya.” Selain itu juga menjadi wahana untuk pemberdayaan masyarakat dan menggerakan UMKM dan ekonomi kreatif dengan banyaknya wisatawan yang datang ke Desa Kemiren,” tambah Taufik.









